Ya Allah, Dokter & Perawat Menjerit Ketakutan Gara-Gara Pilkada! Gak Kuat....

Ya Allah, Dokter & Perawat Menjerit Ketakutan Gara-Gara Pilkada! Gak Kuat.... Foto: Foto: Reuters.

Mantan Wapres sudah bersuara: minta Pilkada ditunda. Ketum NU dan Ketum Muhammadiyah sudah ngomong: sebaiknya jangan paksakan Pilkada di saat Corona, bahaya. Sekarang, giliran tenaga kesehatan yang berteriak. Para dokter dan perawat khawatir kasus Corona akan melonjak kalau Pilkada tetap digelar.

Padahal, saat ini kasus Corona nambahnya sehari sudah 4 ribuan. Kalau sampai kasus Corona nambah terus dan lebih tinggi, para dokter dan perawat takut rumah sakit nggak bisa nampung lagi. Dokter dan perawat tak bisa merawat pasien karena kewalahan. Kalau sampai hal ini terjadi, jangan salahkan dokter dan perawat jika mereka angkat tangan, karena tak bisa menangani pasien.

Baca Juga: Gak Main-Main, Mulai dari Komika, Hingga Pemusik Minta Tunda Pilkada: Kaji Lagi Pak Jokowi

Kekhawatiran para tenaga kesehatan itu memang beralasan. Kasus Corona di Indonesia terus bertambah. Penambahannya pun kian mengkhawatirkan. Dalam sepekan terakhir, empat kali memecahkan rekor di angka 4.000-an lebih.

Kemarin, kasus baru Corona kembali menembus rekor tertinggi. Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 ada penambahan 4.634 kasus. Dengan penambahan itu, total kasus Corona mencapai 262.022 orang. 191.853 pasien dinyatakan sembuh dan 10.105 pasien meninggal dunia. Jumlah pasien yang meninggal pun makin mengkhawatirkan. dalam dua pekan terakhir, rata-rata 117 pasien meninggal per hari.

Baca Juga: Setelah Bocorkan Dosa Besar China, Twitter Tutup Akun Dokter Limeng

Ketua Umum Pengurus Besar Ikayan Dokter Indonesia (PB IDI), Daeng M Faqih, benar-benar khawatir melihat perkembangan kasus Corona yang belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Kekhawatirannya kian bertambah lantaran pemerintah memutuskan untuk tetap menggelar Pilkada, Desember nanti.

Kekhawatiran dia bukan tanpa alasan. Kata dia, Pilkada serentak nanti akan memicu ledakan kasus Corona. Soalnya digelar dalam kondisi pandemi yang angka penularan dan kematiannya masih tinggi. Kalau terjadi lonjakan, dokter dan nakes yang akan menanggung bebannya.

Sementara dalam hitung-hitungannya, kalau terjadi lonjakan yang hebat akibat pilkada, fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan tak akan tercukupi untuk menanggulangi itu.

“Itu yang jadi kekhawatiran kita,” kata Daeng dalam diskusi bertajuk “Dilema Pilkada 2020 di Tengah Covid-19” yang digelar virtual, kemarin.

Saat ini saja, kapasitas pelayanan masih perlu ditambah seiring terus bertambahnya kasus Corona. “Kalau tidak ditambah, banyak saudara kita yang tidak mendapatkan tempat tidur,” katanya.

Karena itu, Faqih meminta, pemerintah dan penyelenggara pemilu memastikan agar tidak ada lonjakan kasus akibat Pilkada. Ia minta KPU membuat skenario dan simulasi yang terukur agar tahapan pilkada ke depannya bisa berjalan sesuai protokol kesehatan yang ketat.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menyampaikan kekhawatiran serupa. Ketua umum PPNI, Harif Fadillah mengatakan, Kerumunan selama kampanye dan pemilihan akan menjadi salah satu sarana penyebaran Corona.

“Ledakan kasus itu dapat menambah beban para tenaga kesehatan yang sudah berjuang hampir tujuh bulan,” kata Harif, kemarin.

Selama lebih dari setengah tahun melawan pandemi, Harif mengatakan, sudah 85 perawat yang meninggal karena Corona. Sementara jumlah yang terpapar lebih banyak lagi. dari empat provinsi yang sudah melapor, tercatat ada 3.019 perawat yang positif Corona. Paling banyak Jakarta, disusul Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Bali. Jumlah tersebut belum termasuk dari provinsi lain.

Jubir Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengakui, penambahan kasus positif Corona masih cukup tinggi. Salah satunya disebabkan karena rangkaian Pilkada 2020.

Wiku kecewa masih ada calon kepala daerah yang menggelar acara yang mendatangkan kerumunan. Akibatnya kasus penularan bertambah. “Sudah sepatutnya calon pemimpin yang dipilih oleh rakyat dapat melindungi rakyatnya,” kata Wiku dalam konferensi pers dari Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.

Epidemiolog Universitas Indonesia, dr. Syahrizal Syarif mengatakan, kekhawatiran para dokter ini memang beralasan. Dia memprediksi, jika kasus harian di angka 3 ribu per hari, jumlah kasus positif pada Desember nanti akan bertambah 300 ribu kasus.

“Artinya Desember nanti kasus kita sudah 500 ribu,” kata Syahrizal, kemarin.

Kondisi ini masih ditambah dengan krisis kapasitas tempat tidur rumah sakit. Apalagi kapasitas ICU dan isolasi saat ini semakin sulit, sedangkan pasien-pasien di IGD juga sudah antre. 

Dia menjelaskan, kapasitas tempat tidur di rumah sakit secara nasional berjumlah 40.500. Itu pun harus berbagi dengan pasien non Corona. Nah, saat kasus Corona mencapai 500 ribu, maka dibutuhkan setidaknya 48 ribu tempat tidur untuk para pasien.

“Saya enggak tahu, itu nanti pasien mau ditaruh di mana, jangan salahkan dokter dan perawat jika nanti banyak pasien yang tak tertangani,” pungkasnya. 

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini