Bukan Kaleng-kaleng, Putin Dinominasikan Dapat Nobel Perdamaian

Bukan Kaleng-kaleng, Putin Dinominasikan Dapat Nobel Perdamaian Foto: Kremlin.ru

Presiden RusiaVladimir Putin menyusul koleganya dari Amerika Serikat (AS) Presiden Donald Trump sebagai nominator Hadiah Nobel Perdamaian. Putin dinominasikan oleh sekelompok penulis Rusia yang dipimpin oleh Sergey Komkov, seperti dilaporkan kantor berita Rusia Tass meskipun alasan pencalonan tersebut belum diberikan.

"Ini sebenarnya adalah nominasi keempat saya untuk Hadiah Nobel Perdamaian. Itu dikirim pada 9 September tahun ini, dan pada 10 September aplikasi ini diterima oleh Komite Nobel Perdamaian di Oslo, di markas besar Komite Nobel," kata Komkov dalam konferensi pers yang dikutip Newsweek dari RIA Novosti, Jumat (25/9/2020).

Baca Juga: Ujar Putin ke Dunia: Kita Perlu Konferensi Vaksin Covid-19

Ketika dimintai komentar, juru bicara Hadiah Nobel merujuk Newsweek pada statuta yang mengatakan bahwa tidak ada daftar publik yang dibuat dari para nominator dan tidak diungkapkan selama 50 tahun ke depan.

"Tak satu pun dari Komite Nobel mengumumkan nama-nama calon, baik kepada media maupun calon itu sendiri," kata situs web Hadiah Nobel.

Siapapun yang memenuhi kriteria Komite Nobel dapat mencalonkan para nominator dan ini termasuk anggota parlemen dimanapun di dunia, profesor dan kelompok akademis.

Juru bicara kepresidenan Rusia Dmitry Peskov mengatakan Kremlin tidak mencalonkan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk Hadiah Nobel Perdamaian.

"Anda semua tahu bahwa orang yang sama sekali berbeda dinominasikan untuk penghargaan ini, ini adalah inisiatif dari mereka yang mengajukan nominasi," kata Peskov.

Pada 2013, Putin dinominasikan untuk Hadiah Nobel Perdamaian oleh Deputi Parlemen Rusia Joseph Kobzon serta Akademi Internasional Persatuan Spiritual dan Kerja Sama Rakyat untuk partisipasi dalam menyelesaikan konflik Suriah dan mencoba menghentikan invasi militer AS ke Suriah, Meduza melaporkan.

Pekan lalu, kritikus Putin Alexei Navalny, yang sedang memulihkan diri di Berlin setelah diracun dalam serangan yang diyakini bermotif politik, juga dinominasikan untuk Hadiah Nobel Perdamaian oleh sekelompok profesor universitas Rusia, menurut Sergei Erofeev, seorang Ilmuwan Rusia yang bekerja di Universitas Rutgers di New Jersey.

Muncul kontroversi awal bulan ini setelah Presiden Donald Trump dinominasikan dua kali untuk penghargaan tersebut. Pertama kali oleh politikus sayap kanan Norwegia Christian Tybring-Gjedde untuk pembicaraan damai antara Israel dan Uni Emirat Arab.

Beberapa hari kemudian, Trump dinominasikan oleh anggota parlemen Swedia Magnus Jacobsson untuk terobosan dalam hubungan antara pemerintah Kosovo dan Serbia.(Baca juga: Bantu Normalisasi Hubungan Israel-UEA, Trump Dinominasikan untuk Nobel Perdamaian)

Di antara pesaing untuk hadiah tahun ini adalah Organisasi Kesehatan Dunia serta Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern serta aktivis lingkungan Greta Thunberg. Komite Nobel mengatakan bahwa hadiah uang tahun ini telah meningkat menjadi USD 1,1 juta seperti dilaporkan Dagens Industri.

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini