TikTok Bentuk Dewan Penasihat Keamanan, Tingkatkan Moderasi Konten

TikTok Bentuk Dewan Penasihat Keamanan, Tingkatkan Moderasi Konten Foto: Unsplash/Kon Karampelas

TikTok, aplikasi distribusi video singkat, hari ini memperkenalkan Dewan Penasihat Keamanan se-Asia Pasifik. Penasihat eksternal ini disebut perusahaan terdiri dari para ahli yang berkompeten di bidang hukum dan kebijakan, serta akademisi dari berbagai wilayah.

Dewan Penasihat ini bertugas memberikan nasihat mengenai kebijakan moderasi konten, serta keamanan dan kenyamanan pengguna, khususnya di Asia Pasifik. Dewan Penasihat menyatukan beragam pendapat dari ahli yang dapat membantu mengembangkan kebijakan praktis.

Baca Juga: Beijing Gak Setuju TikTok Global Dikuasai AS, Harusnya Tetap ByteDance!

"Saya senang menyambut anggota pendiri Dewan ini. Saya juga yakin para anggota Dewan akan memberikan saran dan nasihat yang konstruktif dan jujur, sebagaimana TikTok terus menguatkan kebijakan kontennya di Asia Pasifik. Kami berharap dapat terus memperluas keanggotaan Dewan ini dengan perwakilan-perwakilan pasar dari berbagai wilayah," kata Arjun Narayan, TikTok Director of Trust and Safety, Asia Pacific dalam keterangan tertulisnya, Selasa (22/9/2020).

Tim Dewan ini akan memberikan materi sesuai dengan keahliannya dan saran mengenai kebijakan serta praktik moderasi konten TikTok untuk membantu penyusunan panduan tingkat regional dan global. Tidak hanya itu, tim Dewan ini juga memainkan peran penting dalam mengidentifikasi masalah-masalah yang muncul di satu wilayah yang dapat memengaruhi platform dan pengguna TikTok, serta mengembangkan strategi untuk mengatasi masalah tersebut.

Anggota Pendiri Dewan Penasihat Keamanan TikTok Asia Pasifik adalah:

• Jehan Ara, President Pakistan Software Houses Association for IT & ITES and Founder, The Nest i/o adalah seorang pakar IT yang dihormati dari Pakistan yang akan memberikan keahliannya dalam isu yang berhubungan dengan konten secara umum.

• Amitabh Kumar, Pendiri Social Media Matters, berasal dari India yang terkenal dengan berbagai inisiatifnya dalam kampanye digital. Beliau juga dihormati berkat program keamanan digitalnya yang fokus terhadap kepekaan gender, hak digital, dan keamanan online.

• Nguyen Phuong Linh, Executive Director, Management and Sustainable Development Institute, seorang advokat dari Vietnam yang mengadvokasi hak-hak kaum marginal, terutama anak-anak, anak muda, wanita, dan penyandang disabilitas.

• Yuhyun Park, Pendiri, DQ Institute, berasal dari Singapura yang membawa pengalaman dan keahlian yang penting dalam bidang literasi, keterampilan, dan kesiapan digital.

• Akira Sakamoto, Profesor Department of Psychology Ochanomizu University, fokus terhadap penyimpangan media dan literasi digital yang berasal dari Jepang.

•Seungwoo Son, Profesor Industrial Security, Chung-Ang University, berasal dari Korea Selatan, seorang ahli yang terkenal dalam bidang kekayaan intelektual dan hukum internet, yang mencangkup pencemaran nama baik, pornografi, dan informasi yang salah.

• Anita Wahid, Aktivis Gusdurian Network Indonesia, MAFINDO (Indonesia Anti-Hoax Society),  seorang aktivis dari Indonesia yang memiliki fokus terhadap isu penyimpangan hak asasi manusia dan anti-hoax dan mengerti mengenai isu keamanan anak dan kebutuhan konten agama.

"Saya senang sekali dapat bekerja sama dengan anggota dewan lainnya untuk membahas permasalah di industri saat ini, serta memitigasi potensi bahaya ke depannya," kata Anita Wahid.

Dewan ini akan melakukan pertemuan di setiap kuartalnya untuk mendiskusikan isu-isu utama, termasuk keamanan daring, keamanan anak, literasi digital, kesehatan mental, dan hak asasi manusia. Selain itu, melaporkan pengamatan dan memberikan rekomendasi mengenai isu-isu yang dibahas.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini