Studi: Permukaan Bulan Berkarat Karena Pengaruh Planet Bumi

Studi: Permukaan Bulan Berkarat Karena Pengaruh Planet Bumi Foto: Reuters/Jon Nazca

Penelitian baru menyebutkan atmosfer Bumi berpotensi membuat Bulan menjadi 'berkarat'. Bulan yang terlihat berubah warnanya menjadi sedikit merah diperkirakan adalah faktor yang timbul akibat kesalahan Bumi.

Karat yang juga dikenal sebagai oksida besi adalah senyawa berwarna kemerahan yang terbentuk saat besi terkena air dan oksigen. Ini adalah hasil reaksi kimia umum untuk paku, gerbang, bahkan batu merah di Grand Canyon.

Baca Juga: Studi Terbaru: Racun Lebah Madu Hancurkan Sel Kanker Payudara

Kondisi tersebut juga terjadi di Mars yang dijuluki sebagai Planet Merah setelah tampak rona kemerahan yang berasal dari karat yang didapatnya sejak lama ketika besi di permukaan dikombinasikan dengan oksigen dan air. Namun, tidak semua lingkungan angkasa optimal untuk terjadi pengaratan, khususnya Bulan yang kering dan bebas atmosfer.

"Ini sangat membingungkan. Bulan adalah lingkungan yang mengerikan untuk karat terbentuk," ujar kepala penulis studi, Shuai Li, yang merupakan asisten peneliti di University of Hawaii seperti dilansir Space.

Li sedang mempelajari data dari JPL Moon Mineralogy Mapper yang berada di dalam pengorbit Chandrayaan-1 Organisasi Penelitian Luar Angkasa India saat mengamati Bulan pada 2008, ketika ia menyadari bahwa kutub bulan memiliki komposisi yang sangat berbeda dari yang lainnya.

Selama misinya, Moon Mineralogy Mapper mendeteksi spektrum, atau panjang gelombang cahaya yang dipantulkan dari berbagai permukaan Bulan, untuk menganalisis susunan permukaan benda ruang angkasa ini.

Ketika Li memusatkan perhatian pada kutub, ditemukan bahwa permukaan kutub bulan memiliki batuan kaya besi dengan tanda spektral yang cocok dengan hematit. Mineral hematit, umumnya ditemukan di permukaan bumi, adalah sejenis oksida besi, atau karat, dengan rumus Fe2O3.

"Awalnya, saya sama sekali tidak mempercayainya. Seharusnya tidak ada berdasarkan kondisi yang ada di Bulan. Tapi sejak kami menemukan air di Bulan, orang-orang berspekulasi bahwa mungkin ada lebih banyak variasi mineral daripada yang kita sadari jika air bereaksi dengan bebatuan," jelas rekan penulis studi Abigail Fraeman, ahli geosains planet di JPL, dalam pernyataan itu.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini