Startup Unicorn OVO Tertarik IPO di Bursa?

Startup Unicorn OVO Tertarik IPO di Bursa? Foto: WE

Sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, pergerakan pasal modal Indonesia masih tergolong bagus. Meski sempat jatuh ke level 3.900-an pada awal pandemi di bulan Maret 2020, tetapi perlahan indeks bergerak naik dan kembali ke level 5.000-an per bulan September ini.

Tidak hanya dari sisi indeks harga saham, kinerja baik juga terlihat dari kenaikan jumlah investor yang menanamkan modal di pasar saham. Komisaris Bursa Efek Indonesia (BEI) Pandu Patria Sjahrir, mencatat terjadi kenaikan jumlah investor ritel yang masuk ke bursa hingga menembus angka tiga juta investor. 

"Sebelumnya hanya satu juta investor saja," katanya sebagaimana dilansir dari SindoNews di Jakarta, Kamis (17/9/2020).

Baca Juga: Startup Story: Asumsi.co, Media Alternatif yang Baru Kantongi Modal dari ....

Kinerja moncer juga dipanen oleh sejumlah startup e-commerce dan digital payment. Salah satunya OVO yang merupakan perusahaan rintisan Indonesia dengan gelar unicorn. Berdasar catatan perusahaan, fintech milik Lippo Group ini berhasil menarik jumlah pengguna baru secara signifikan mencapai 267%.

Capaian ini bukan tanpa sebab. Selama pemberlakuan PSBB April 2020 lalu terjadi kenaikan transaksi digital hingga 64,48% secara tahunan. Bahkan volume transaksi digital tumbuh 37,35% secara tahunan. Begitu menurut catatan Bank Indonesia.

Dengan mempertimbangkan pergerakan bursa dan kinerja perusahaan yang kebal Corona, apakah perusahaan dengan nama PT Visionet International ini berambisi melakukan initial public offering (IPO) atau penawaran umum perdana tahun ini untuk menambah modal dari pasar saham?

Menjawab soal ini, Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra bilang bahwa perusahaan belum memiliki rencana untuk menghimpun dana lewat pasar modal, baik domestik maupun internasional. Fokusnya saat ini adalah menjalankan rencana bisnis yang sudah dirancang perusahaan.

"OVO terus melakukan berbagai cara untuk beradaptasi terhadap setiap situasi. Kami memastikan strategi yang kami jalankan tepat untuk menghadapi kondisi ekonomi baru, khususnya terkait dengan kondisi ekonomi pandemi Covid-19," kata dia dalam pernyataan tertulis yang dikirim melalui aplikasi pesan singkat kepada redaksi Warta Ekonomi, Kamis malam (16/9/2020).

Lebih jauh, Karaniya bicarakan bahwa di tengah ancaman pandemi Covid-19 saat ini, perusahaan akan lebih fokus pada upaya membantu dan memberikan kontribusi positif bagi pemerintah guna memulihkan ekonomi Indonesia.

Dia sampaikan, "fokus utama kami saat ini ialah untuk membantu pemerintah Indonesia untuk secara proaktif berkontribusi dalam berbagai program maupun bantuan yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam menghadapi pandemi."

Salah satu kontribusinya, startup yang akan genap berusia tiga tahun pada 25 September mendatang ini mendukung inisiatif QRIS yang dijalankan Bank Indonesia untuk mempermudah UMKM dan pengguna dalam bertransaksi tanpa kontak langsung. 

"OVO juga turut andil mendukung penerapan pembayaran non-tunai yang disalurkan ke masyarakat melalui Kartu Prakerja kepada jutaan pencari kerja dan usaha kecil, mendukung PLN dalam mendistribusikan pencairan subsidi tagihan listrik, meluncurkan berbagai program donasi digital, serta mendukung program Bangga Buatan Indonesia," tandasnya.

Sebagaimana diketahui, pagebluk Covid-19 telah meluluhlantakkan hampir semua lini bisnis. Namun, sebaliknya OVO justru memanen berkah dari krisis akibat virus asal Wuhan, China, tersebut.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini