Lulusan Pilih-pilih Kerjaan, Penyebab Pengangguran Malaysia Tinggi

Lulusan Pilih-pilih Kerjaan, Penyebab Pengangguran Malaysia Tinggi Foto: Unsplash/Alex Block

Satu buah pernyataan kontroversial dikeluarkan oleh pemerintah Malaysia menyangkut para fresh graduate yang ada di sana.

Awang Hashim selaku Wakil Menteri Sumber Daya Manusia menjelaskan alasan mengapa saat ini di Malaysia angka penganggurannya lebih tinggi dari tahun lalu.

Baca Juga: Rakyat Negeri Tetangga Peringatkan Hari Malaysia, Apa Itu?

Hasim menyatakan bahwa hal ini disebabkan karena terlalu banyak lulusan baru yang memilih-milih pekerjaan mereka.

Dikutip dari World of Buzz, tidak hanya karena pilih-pilih kerjaan, Hasim juga menjelaskan bahwa para fresh graduate ini masih memiliki kemampuan (skill) yang terlalu sedikit.

"Kualifikasi yang rendah atau IPK yang kecil membuat pemberi kerja kurang tertarik untuk merekrut kandidat.

"Ini belum lagi ditambah kondisi ketidaksesuaian bidang studi dan pekerjaan yang diinginkan," jelas Hasim pada Selasa 14 September 2020 kemarin.

Hal ini disampaikan oleh wakil menteri tersebut dalam acara Rapat Dewan Rakyat Pemerintah Malaysia.

Dalam rapat tersebut, Kementerian SDM menyatakan angka pengangguran Malaysia naik jika dibandingkan pada tahun 2019.

Pada tahun ini, pengangguran di Malaysia mencapai angka 170.300 orang.

Itu naik 3,9 persen daripada pengangguran di tahun 2019.

Menanggapi pernyataan wakil menteri yang menyatakan bahwa para lulusan baru terlalu pilih-pilih soal kerjaan, banyak netizen Malaysia yang tidak menerima hal tersebut.

Mereka berkomentar bahwa banyaknya lulusan baru belum dapat pekerjaan karena susahnya proses birokrasi dari dinas pendidikan di sana.

"Pihak kampus saja lambat dalam mengeluarkan surat konfirmasi kelulusan saat kita akan wawancara.

"Bagaimana bisa kita dikatakan memilih-milih kerjaan," tutur salah seorang netizen.

"Saya sangat benci terkait pernyataan yang hanya menunjukan kesalahan dari para lulusan ini.

"Cobalah melihat kenyataan yang sebenarnya," jelas akun lainnya.

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini