96 Persen UMKM Kota Bogor Sudah Gunakan QRIS

96 Persen UMKM Kota Bogor Sudah Gunakan QRIS Foto: Rahmat Saepulloh

Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kantor Wilayah (KpW) Jawa Barat mencatat hingga September 2020  lebih dari 964.000 merchant di Jawa Barat telah menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) atau secara nasional mencapai 21, 3%. Artinya Jawa Barat menduduki rangking pertama di Indonesia. Dari 964.000 merchant tersebut 96% UMKM Kota Bogor sudah menggunakan QRIS atau ke-4 terbanyak se-Jawa Barat.

Kepala BI Jabar Herawanto menjelaskan Kota Bogor sudah menerapkan layanan elektronivikasi transaksi dan retribusi pajak sehingga menjadi wilayah pertama yang mengimplementasikan QRIS sebagai metode alternatif pembayaran PBB di wilayah Jawa Barat. Baca Juga: RI 'Ditakuti' Puluhan Negara, Lobi-lobi Peringanan Pun Dilakukan

"Kami menyampaikan apresiasi atas dukungan dan komitmen penuh pemerintah kota Bogor dan bapak walikota atas upaya transaksi elektronik edi wilayah kota Bogor. Peran aktif tersebut dapat menjadi contoh wilayah lain di antaranya sebagai upaya peningkatan pendapatan asli daerah,"kata Herawanto kepada wartawan di Kota Bogor, Selasa (15/9/2020). Baca Juga: Begini Cara BI Dukung UMKM Jadi Kekuatan Ekonomi Nasional

Selain itu, upaya implementasi QRIS juga digunakan di sentra kuliner legendaris Teras Surya Kencana pada awal September 2020 lalu. Hal ini merupakan bukti nyata bahwa pemerintah kota Bogor sangat serius dalam upaya digitalisasi guna mendukung recovery dan rebound perekonomian Kota Bogor.

Herawanto menyebutkan secara keseluruhan Kota Bogor termasuk 5 besar memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. Kota Bogor pada tahun 2019 perekonomian tumbuh 6,04% dengan inflasi terkendali juga Agustus 2020 tercatat deflasi 0,6%.

Secara struktural perekonomian kota Bogor didominasi sektor perdagangan industri pengolahan transportasi dan konstruksi yang pada tahun 2019.

"Kinerjanya mengalami peningkatan kecuali kinerja industri pengolahan realisasi investasi di Kota Bogor di bulan Agustus 2020 didominasi PMDN  87,4% hanya 15,26% investor asing seperti Jepang, Singapura dan Amerika Serikat," ujarnya.

Secara sektoral, lanjut Herawanto, realisasi investasi terbesar di konstruksi jasa sehingga kontribusi kota Bogor terhadap perekonomian Jawa Barat sekitar 2,9%. Meski demikian, pertumbuhan kota hujan ini  berpotensi terus meningkat karena  memiliki keunggulan letak strategis untuk pengembangan permukiman, pelayanan pusat industri nasional, perdagangan transportasi, komunikasi dan pariwisata terutama sebagai penyangga DKI Jakarta. 

Dia mengaku tidak dapat dipungkiri kinerja perekonomian Jawa Barat dan Bogor pada triwulan II 2020 tersebut berdampak oleh pandemi Covid-19 baik dari sisi inflasi maupun deflasi yang perlu dicermati agar tidak menimbulkan kecenderungan harga yang tidak menguntungkan bagi produsen seperti peternak maupun petani. 

"Harga yang tidak menguntungkan bagi produsen akan menghambat kontinuitas pasokan di kemudian hari. Namun demikian ada titik cara memasuki Triwulan III 2020. Berbagai indikator ekonomi Jawa Barat dan kota Bogor menunjukkan pemulihan dan harus segera kita optimalkan momentum pemulihan ini, tentu dengan tetap menerapkan protokol kesehatan!," pungkasnya.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini