Waspada! Mutasi Covid-19 'D614G' di Indonesia Sangat Berbahaya

Waspada! Mutasi Covid-19 'D614G' di Indonesia Sangat Berbahaya Foto: Sufri Yuliardi

Penelitian terbaru menemukan bahwa Covid-19 yang merajalela di seluruh dunia telah mengalami mutasi. Bahkan, ilmuwan dunia mengatakan bahwa mutasi corona paling mengerikan telah terjadi di Indonesia dan Malaysia.

Seperti dilansir dari Daily, mutasi bernama "D614G" itu akan membuat virus lebih mudah menyerang tubuh manusia, mengakibatkan infektivitas virus meningkat beberapa kali lipat.

Baca Juga: Tanda-Tanda Anda Mungkin Pernah Terjangkit Covid-19

Ahli terkait mengingatkan masyarakat untuk tidak melonggarkan kewaspadaan karena epidemi telah berlangsung selama lebih dari setengah tahun. Corona virus gelombang kedua sama menakutkan dan "sangat, sangat mengerikan".

Hingga 7 Juli 2020, sekitar 11.748.985 orang di seluruh dunia terinfeksi, 540.860 orang meninggal dunia, dan jumlah infeksi baru terus mencatat rekor tertinggi setiap hari.

Menurut penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal terkenal "Cell" pada 2 Juli, varian dari coronavirus yang saat ini beredar secara global lebih rentan menginfeksi sel manusia daripada virus dari daratan China. Ini juga salah satu sebab meningkatnya pandemi di Amerika Serikat, Amerika Selatan, bahkan Asia Tenggara seperti Indonesia dan Malaysia.

Bahkan, Amerika Serikat memperingatkan warganya untuk tidak bepergian ke Indonesia sementara ini, kecuali kepentingan mendesak. Peringatan level 3 itu dikeluarkan Central Disease Control and Prevention (CDC) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di negara tersebut.

Para peneliti dari Los Alamos National Laboratory, New Mexico, AS, dan Duke University, North Carolina bekerja sama dengan tim peneliti dari University of Sheffield, Inggris untuk bersama-sama meneliti urutan genom dari coronavirus-COVID-19.

Penelitian tersebut menemukan bahwa 29% dari sampel virus corona menunjukkan mutasi D614G. Dilihat dari bentuknya, virus D614G memiliki jumlah mahkota yang menonjol empat hingga lima kali lebih banyak ketimbang Covid-19.

Mutasi pada protein S-spike yang mengikat virus ke tubuh manusia ini meningkatkan jumlah "tonjolan" pada coronavirus. Para peneliti berpendapat, banyaknya jumlah tonjolan inilah yang membuat virus lebih cepat menginfeksi sel manusia sehingga lebih mudah menginfeksi orang.

Sejak awal April lalu, para peneliti menemukan bahwa mutasi D614G di bawah kondisi laboratorium dapat menginfeksi lebih banyak sel berdasarkan perubahan enzim protease atau peptidase dan mutasi virus meningkatkan infektivitas 3 hingga 6 kali lipat.

Para peneliti kemudian menambahkan materi penelitian lainnya. Mereka menganalisis data 999 pasien Inggris yang dirawat di rumah sakit. Hasilnya menemukan bahwa pasien dengan mutasi virus D614G membawa lebih banyak strain, yaitu jumlah virus dalam tubuh lebih banyak, tetapi patogenisitasnya tidak meningkat.

Sementara itu, Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Menristek/BRIN), Bambang PS Brodjonegoro, mengatakan, mutasi pada virus corona tidak akan mengganggu upaya pengembangan vaksin yang saat ini tengah dilakukan.

Bambang juga mengimbau masyarakat agar tidak perlu panik berlebih terhadap mutasi, seperti D614G. "Namun, harus tetap waspada penuh dan disiplin menjalankan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19," saran Bambang.

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini