Giliran Stafsus Presiden Jokowi Sindir Anies: Rem Mendadak? Oh, Mungkin...

Giliran Stafsus Presiden Jokowi Sindir Anies: Rem Mendadak? Oh, Mungkin... Foto: Antara/Rivan Awal Lingga

Staf Khusus Presiden, Diaz Hendropriyono, mempertanyakan "rem mendadak" yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Hal tersebut dia sampaikan melalui akun media sosial pribadinya.

"Rem mendadak? Oh, mungkin kemarin nyetirnya ugal-ugalan. Ya kita semua siap-siap saja ya pake sabuk pengaman," unggah Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) itu di akun Instagramnya, @diaz.hendropriyono, Sabtu (12/9/2020).

Baca Juga: Camkan, Kebijakan PSBB Anies Murni Motif Kesehatan Bukan Politik

 Tulisannya tersebut diunggah dengan keterangan Ketum PKPI dan tagar #JustThinking #PKPI. Masih dalam unggahan yang sama, ia pun berharap agar "rem" yang hendak ditarik itu tidak blong. "Semoga remnya nggak blong," kata dia.

Juru Bicara PKPI, Sonny Tulung, ikut berkomentar terkait unggahan yang kerap disapa Masbos itu. Sonny tak menampik unggahan Diaz itu ditujukan untuk mengingatkan Anies sebagai kepala daerah.

"Setuju dengan Ketum Masbos, jangan sampai kesalahan Anies terulang soal PSBB, lebih hati-hati lagi menyetir," kata Sonny saat dikonfirmasi, Sabtu (12/9/2020).

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akhirnya menarik rem darurat yang mencabut kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Transisi dan memberlakukan kembali PSBB secara total. PSBB total akan diberlakukan mulai Senin (14/9/2020).

"Dengan melihat keadaan darurat ini di Jakarta, tidak ada pilihan lain selain keputusan untuk tarik rem darurat. Artinya kita terpaksa berlakukan PSBB seperti awal pandemi. Inilah rem darurat yang harus kita tarik," kata Anies dalam keterangan pers yang disampaikan di Balai Kota Jakarta, Rabu (9/9/2020) malam.

Prediksi akan habisnya kapasitas tempat tidur dan ruang rawat sejumlah rumah sakit (RS) khusus penanganan Covid-19 menjadi salah satu alasan utama Anies menarik tuas rem darurat dan memberlakukan PSBB total.

Meskipun Jakarta memiliki fasilitas kesehatan yang besar dengan 67 RS rujukan, jumlah dokter yang lebih tinggi dibanding rata-rata nasional, saat ini sudah melebihi ambang batas kerawanan sebesar 80 persen dari ketersediaan.

"Namun ambang batas sudah hampir terlampaui, dan tak lama lagi pasti akan over kapasitas," kata Anies.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini