DPR Yakin BIN Tak Bakal Bikin Pasukan Khusus

DPR Yakin BIN Tak Bakal Bikin Pasukan Khusus Foto: Viva

Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Evita Nursanty menyatakan tidak mungkin Badan Intelijen Negara (BIN) memiliki pasukan khusus.

Menurut dia, informasi pasukan khusus yang ditunjukkan oleh Ketua MPR Bambang Soesatyo hanya sebuah pertunjukan atau demonstrasi saat acara di Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN). Keterampilan itu pun ditunjukkan oleh siswa Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN).

"Enggaklah, saya yakin 100 persen tidak ada pasukan khusus, itu salah pengertian saja. Mereka (yang tampil mendemokan keahlian itu) adalah agen atau siswa STIN yang sedang mendemokan keterampilan mereka sesuai tugas mereka,” kata Evita di Jakarta, Sabtu (12/9/2020).

Baca Juga: BIN Berada Langsung di Bawah Presiden, Mahfud MD Buka Suara

Evita mengaku amat mengetahui, siswa STIN memang dilatih dengan sangat terampil. Sebagai mantan Anggota Komisi I DPR selama dua periode, ia melihat banyak anggota lembaga mata- mata itu sekalipun siswa STIN, memiliki banyak keahlian. Di antaranya keahlian pencak silat, ahli karate, cyber dan soft skill lainnya. Kemampuan itu sebut Evita diperlukan kelak ketika mereka terjun di lapangan.

"Jadi keahlian itulah yang dipertunjukkan sebagai bagian dari ceremony bukan membuat pasukan khusus. Kita memang membutuhkan siswa STIN yang terampil karena mereka sumber utama SDM BIN sesuai UU Intelijen. Coba lihat juga di film-film itu, bagaimana anggota CIA, FBI atau badan intelijen lain punya keterampilan khusus ketika mereka bertugas misalnya dalam penyusupan ke komunitas apa pun,” tutur Evita.

Evita juga merujuk pada UU Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara. Aturan itu menyebut, STIN sebagai sumber utama perekrutan BIN. Sehingga sekolah kekhususan ini terus mengembangkan pendidikan untuk mencapai tujuan lulusan yang berdaya saing internasional dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Sementara BIN sendiri lanjut Evita terus mendorong pengembangan profesi atau kemampuan profesional personel intelijen melalui pendidikan, pelatihan dan penugasan. 

"Perlunya rekrutmen dan pengembangan profesi dan kemampuan profesional personel intelijen yang tangguh dan yang memiliki keahlian khusus ini sejalan dengan perubahan, perkembangan situasi. Dan kondisi lingkungan strategis yang memang perlu melakukan deteksi dini dan peringatan dini terhadap berbagai bentuk dan sifat ancaman, baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang bersifat kompleks serta memiliki spektrum yang sangat luas,” kata dia.

Dia juga berharap, sistem rekrutmen dan pelatihan keterampilan khusus tersebut bisa diterapkan di kampus atau universitas lain yang berkaitan dengan intelijen pertahanan dan keamanan negara. Belakangan pengembangan program studi baru di STIN seperti Intelijen Medik, kemudian terdapat Intelijen Cyber, Intelijen Ekonomi (Strata Dua) maupun Ilmu Intelijen Strategis menurutnya adalah terobosan yang bagus.

"Justru kita senang BIN punya siswa dilatih keterampilan khusus soft skill. Sistem ini bagus jika diterapkan di institusi pendidikan lain seperti  Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) yang sudah bertransformasi menjadi Politeknik Siber dan Sandi Negara atau Universitas Pertahanan. Setiap lulusan memang harus memiliki keahlian khusus," ujarnya.

Lihat Sumber Artikel di Viva Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Viva. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Viva.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini