Apa Benar Tes Covid-19 Sekalian Curi Organ Tubuh Manusia?

Apa Benar Tes Covid-19 Sekalian Curi Organ Tubuh Manusia? Foto: Antara/REUTERS/Francis Mascarenhas

Sucha Singh, 60, kehilangan istrinya Kulwant Kaur karena Covid-19. Namun dia tetap percaya bahwa virus corona adalah konspirasi.

"Ini semua omong kosong. Tidak ada corona. Jika ada virus itu, ibu istri saya yang berusia 80-an tidak akan hidup dan sehat saat ini."

Dia bilang dia menyesal membawa istrinya ke rumah sakit untuk mengobati diabetesnya.

"Mereka tidak pernah merawatnya karena diabetes dan terus mengatakan itu corona, corona," tambahnya.

Singh menegaskan bahwa sesuatu yang lebih jahat sedang berlangsung.

"Kami mendengar bahwa dokter dan pemerintah dibayar untuk menunjukkan lebih banyak korban Covid-19. Kami juga mendengar bahwa orang-orang diseret keluar dari rumah mereka dan kemudian dibunuh."

Informasi yang berubah tentang Covid-19, dan berbagai dampak yang ditimbulkan pada orang-orang, tak peduli usia mereka dan di mana mereka tinggal, tampaknya memicu kesalahan informasi.

"Sebelumnya orang-orang tua sekarat. Sekarang bahkan kaum muda pun sekarat. Bagaimana bisa tiba-tiba bahkan anak-anak muda pun terinfeksi?" tanya Satpal Singh Dhillon, kepala desa yang dewan desanya tidak mengizinkan pengetesan Covid-19.

"Kami sering melihat bahwa yang meninggal adalah seorang lelaki tua tetapi keluarganya mendapatkan tubuh seorang wanita muda. Jadi, bagaimana orang-orang bisa percaya dalam skenario seperti itu?"

Tidak mungkin untuk melacak asal usul rumor ini, tetapi beberapa - seperti tentang tubuh yang ditukar - bisa jadi dipicu oleh kesalahan.

Pada bulan Juli, dua bersaudara laki-laki yang ayahnya meninggal karena Covid-19 menyatakan yakin ayah mereka masih hidup saat mereka menerima jenazah seorang perempuan.

Hal ini berujung pada penyelidikan dan para pejabat kemudian mengakui telah terjadi kesalahan, tetapi mengatakan bahwa ayah kedua laki-laki itu juga telah meninggal dan dikremasi oleh keluarga jenazah perempuan tersebut.

Meskipun demikian, rumor tersebut telah bertahan kuat.

"Kami tidak menentang pengujian, tetapi kami jelas menentang orang yang dibawa secara paksa oleh petugas kesehatan," kata Sukhdev Singh Kokri dari distrik Moga.

"Orang-orang berada dalam kondisi normal ketika dibawa pergi, tetapi mereka kembali dalam keadaan meninggal dengan organ mereka diambil."

Dia menuduh pemerintah membesar-besarkan angka Covid-19 untuk mengendalikan masyarakat dan mengakhiri protes.

Para pejabat mengatakan tidak mengerti mengapa ada yang memulai rumor semacam ini, atau mengapa rumor menjadi sampai seperti itu di Punjab.

Tetapi wakil direktur kesehatan negara bagian, Arvinder Gill, mengatakan ada protes serupa yang dipicu oleh rumor selama kampanye vaksinasi polio dan rubella.

"Saya ingat selama kampanye vaksinasi polio, orang-orang menolak tim kami dengan mengatakan bahwa vaksin akan membuat anak-anak mereka impoten. Selama kampanye rubella, orang menentangnya dengan mengatakan vaksin bisa menyebabkan demam dan bisa berakibat fatal."

Gill menambahkan bahwa resistensi itu bisa menjadi bencana karena orang tidak akan tahu jika mereka terinfeksi.

"Mereka akan terinfeksi dan bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Kondisi mereka sendiri akan memburuk. Ketika mereka datang ke rumah sakit, fasilitas medis mungkin tidak dapat membantu mereka."

Tampilkan Semua
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Viva Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Viva. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Viva.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini