Di Thailand, Ganja Bantu Pengobatan Kanker dan Penyakit Kronis

Di Thailand, Ganja Bantu Pengobatan Kanker dan Penyakit Kronis Foto: Reuters/Jaime Saldarriaga

Tidak hanya di Indonesia, konsumsi dan peredaran ganja masih diributkan legal dan ilegalnya. Begitu pun dalam penggunaannya sebagai obat.

Di Indonesia, ganja sempat diumumkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sebagai salah satu komoditi obat.

Baca Juga: Astaga Naga!! Israel Hujan Ganja

Tak lama, pengumuman itu dibatalkan dengan mencabut sementara Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) No.104 Tahun 2020, mengenai penetapan ganja sebagai tanaman obat komoditas binaan Kementan.

Sementara, sebuah penelitian di Thailand telah menunjukkan bahwa pasien, termasuk mereka yang menderita kanker, mendapat manfaat dari pengobatan ekstrak ganja.

Hasil penelitian yang dilansir New Straits Times itu juga menunjukkan, ganja terbukti dapat menghambat pertumbuhan sel kanker.

Studi tersebut dilakukan oleh Government Pharmaceuticals Organization (GPO), yang mendistribusikan produk ganja medis ke rumah sakit umum dan swasta pada Agustus tahun lalu.

Spesialis GPO Nanthakan Suwanpidokkul mengatakan Prasat Neurological Institute dan Queen Sirikit National Institute of Child Health menemukan bahwa gejala telah membaik pada 10 dari 16 anak, atau 62 persen, dengan epilepsi yang sulit diobati dan sulit ditangani.

Menurut laporan Bangkok Post, Prasat Neurological Institute juga menemukan bahwa lima dari tujuh pasien multiple sclerosis (MS), yang tidak menanggapi pengobatan standar membaik saat dirawat dengan produk tersebut.

Institut Kanker Nasional melaporkan bahwa 14 pasien kanker stadium akhir yang menerima perawatan paliatif mengalami pereda nyeri lebih dari 50 persen, nafsu makan lebih baik, berat badan bertambah, dan tidur lebih nyenyak.

Departemen Layanan Medis memberikan produk dan obat-obatan normal kepada 42 pasien kanker stadium akhir di klinik ganja medis di provinsi selama sebulan dan menemukan peningkatan serupa.

Sebagian besar pasien menanggapi pengobatan secara positif tanpa efek samping yang parah.

Untuk pasien Parkinson, diberikan kepada 16 pasien di RS Sakonnakhon di provinsi Sakon Nakhon selama tiga bulan dan kondisinya membaik, kebanyakan dari mereka tidur lebih nyenyak dan mengalami kualitas hidup yang lebih baik.

Lihat Sumber Artikel di Pikiran Rakyat Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Pikiran Rakyat. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Pikiran Rakyat.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini