Calon Investor Apartemen Antasari 45 Diragukan

Calon Investor Apartemen Antasari 45 Diragukan Foto: Antara/Fakhri Hermansyah

Pengembang Apartemen Antasari 45, PT Prospek Duta Sukses (PDS) mengklaim proposal perdamaian tawarannya didukung mayoritas kreditur. Direktur Utama PT PDS Wahyu Hartanto, mengaku telah menerima komitmen dari dua calon investor serius yang dikatakan siap memenuhi persyaratan yang ditentukan perusahaan tersebut. Kedua investor disebut memiliki profil dan kredibilitas tinggi.

Sementara konsumen atau kreditur Antasari 45 membantah pernyataan Wahyu. Angelina, salah seorang konsumen mengatakan, dua calon investor yang disampaikan Wahyu merupakan perusahaan yang tak kredibel.  Baca Juga: Kasus Pinangki, Pengelola Apartement Elite di Jaksel Diperiksa

"Kami telah menelusuri informasi  tentang kedua investor tersebut, hasilnya ternyata hanya perusahaan baru dibentuk beberapa bulan yang lalu, atau perusahaan 'ecek-ecek' yang tidak memiliki modal finansial yang memadai, terlebih kompetensi dan pengalaman di bidang high-rise building," ujar Angelina saat ditemui di Mapolda Metro Jaya, bersama sejumlah konsumen dan kuasa hukum, Selasa (8/9/2020). Baca Juga: Merasa Ditipu, Pembeli Apartemen Antasari 45 Bikin Laporan

Angelina bersama sejumlah kreditur konkuren atau kreditur yang tak memegang jaminan kebendaan, mengaku telah mengetahui profil kedua perusahaan calon investor, yang disampaikan dalam proposal perdamaian. Perusahaan ini yakni PT Dipta Purna Avenue dan PT Brightsource Pacific Indonesia. Keduanya dinilai sebagai perusahaan yang tak memiliki kapasitas menjadi calon investor. 

"PT Dipta Purna Avenue merupakan afiliasi PT Grahatama Kreasi Baru (Paradise Group). Pemegang saham adalah PT Grahatama Kreasi Baru dan PT Island Resort Development," kata dia. 

PT Grahatama Kreasi Baru, menurut Angelina memiliki modal Rp 474 juta, sedangkan PT Island Resort Development Rp 26 juta. Total modal kedua perseroan pemegang saham  PT Dipta Purna Avenue adalah sekitar Rp 500 juta. Sementara sisa saham Rp 1,5 miliar belum dikeluarkan. 

Modal awal PT Dipta yang sebelumnya Rp 100 juta, ditingkatkan menjadi Rp 2 miliar. Sementara modal yang ditempatkan/disetorkan sebelumnya Rp 52 juta ditingkatkan menjadi Rp 500 juta. 

Adapun PT Brightsource Pacific Indonesia, kata kreditur konkuren lainnya, Oktavia Cokrodiharjo, berdiri pada 2019, dengan modal dasar Rp 5 miliar. Perusahaan itu memiliki saham 5.000 lembar dan modal yang ditempatkan Rp 1,25 miliar, dan modal disetor Rp 1,25 miliar, dalam bentuk tunai. Pemegang saham Brightsource hanya dua perusahaan, yaitu  PT Anugrah Magali Selalu yang memiliki 650 lembar saham, dan PT Inti Graha Dewata dengan 600 lembar saham. 

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini