Ambisi Perusahaan Petrokimia Milik Prajogo Pangestu Gak Main-Main

Ambisi Perusahaan Petrokimia Milik Prajogo Pangestu Gak Main-Main Foto: Istimewa

Perusahaan petrokimia milik Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), resmi mengoperasikan dua unit pabrik baru, yakni pabrik Methyl Tert-butyl Ether (MTBE) dan Butene 1 (B1) pada awal September 2020 ini. Kedua pabrik tersebut mempunyai kapasitas masing-masing 128 KTA untuk MBTE dan 43 KTA untuk B1.

Pengoperasian pabrik petrokimia yang diklaim memiliki teknologi processing termutakhir di dunia, yakni Lummus Technology itu tidak terlepas dari ambisi Chandra Asri dalam mendukung target pemerintah terhadap kebutuhan produk kimia yang saat ini masih didominasi impor. 

Baca Juga: Silau! Perusahaan Sandiaga Kantongi Ratusan Miliar Rupiah dari...

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian tahun 2018, Indonesia mengimpor produk kimia methanol dan turunannya, yakni MTBE dan B1 dari beberapa negara. Nilai impor tersebut bahkan mencapai Rp174 triliun. Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengungkapkan bahwa peran Chandra Asri tak hanya dalam hal substitusi impor, tetapi juga mampu menarik investor baru ke Indonesia.

Baca Juga: Prajogo Pangestu Angkat Kaki dari Orang Terkaya ke-3 Gara-Gara...

"Industri petrokimia di Indonesia memiliki peran penting dalam mensubtitusi impor. Oleh karena itu, perlu kita dorong untuk tumbuh. Selain substitusi impor, perusahaan petrokimia seperti Chandra Asri juga mmapu menarik investor baru yang tentunya akan berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia," pungkasnya secara tertulis, Jakarta, 8 September 2020.

Mengamini hal itu, Presiden Direktur Chandra Asri, yakni Erwin Ciputra mengungkapkan bahwa pihaknya berambisi bahwa melalui pengoperasian pabrik baru, harapan pemerintah mengurangi impor hingga 35% dapat tercapai.

"Prioritas utama kami adalah mendukung pemerintah di industri dalam negeri dalam mengurangi ketergantungan impor. Dengan beroperasinya pabrik baru ini, kami berharap tujuan pemerintah mengurangi impor sampai 35% pada tahun 2022 dapat tercapai," jelas Erwin.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini