Analis Militer Temukan Kelemahan Pasukan Raksasa China

Analis Militer Temukan Kelemahan Pasukan Raksasa China Foto: Reuters/Damir Sagolj

Saat ini China mungkin memiliki kekuatan militer terbesar kedua di dunia. Negeri Tirai Bambu diperkuat berbagai senjata, perlengkapan dan peralatan paling canggih. Tapi negara dengan populasi terbesar itu memiliki satu kelemahan yang mungkin tidak dimiliki negara-negara miskin di Timur Tengah dan Afrika.

Kelemahan yang sulit ditutupi dengan jumlah pasukan yang luar biasa banyak. Pakar dan peneliti pertahanan di lembaga non-profit RAND Corporation, Timothy Heath menilai pasukan China saat ini tidak memiliki pengalaman bertempur.

Baca Juga: AL AS Guncang Lautan, Militer China Siap Kerahkan Kapal Induk

"Persenjataan teknologi tinggi militer China saat ini semakin mengesankan, tapi kemampuan menggunakan senjata dan peralatan itu masih belum jelas, ada alasan untuk bersikap skeptis," tulis Heath di situs RAND dan diunggah ulang National Interest pada Senin (7/9/2020).

Sementara pasukan Irak, Iran, Afghanistan, Arab Saudi, Turki, Nigeria dan sejumlah negara di Timur Tengah dan Afrika lainnya sudah lama bertempur melawan pemberontak dan teroris. Selama beberapa dekade terakhir, China tidak memiliki perlawanan yang berarti.

Heath mengatakan terakhir kali militer China atau yang dikenal Pasukan Pembebasan Rakyat (PLA) terlibat dalam pertempuran besar terjadi pada tahun 1979. Ketika militer Vietnam yang berpengalaman menghancurkan invansi China yang ceroboh.  

Saat itu militer Vietnam baru saja mengalahkan pasukan Amerika Serikat (AS) dan sekutu-sekutunya. Sementara Partai Komunis China baru saja membubarkan angkatan bersenjata mereka sendiri melalui pembersihan besar-besaran bermotif politik.

Pembentukan PLA menunjukkan keputusan tersebut merusak. Hal itu terbukti banyak operasi yang gagal. Keterampilan pasukan dalam menjalankan taktik rendah.

Pasukan infrantri tidak bisa membaca peta dan melakukan navigasi. Karena tidak terbiasa dengan prosedur mengukur dan menghitung jarak tembak, tembakan pasukan artileri tidak akurat.

"Kekalahan itu masih menghantui PLA, sebagian besar pihak berwenang China mengabaikan konflik memalukan itu dengan cara yang canggung agar cocok dengan narasi Beijing yang mendorong perdamaian, tapi kebungkaman pemerintah membuat veteran PLA kecewa dengan partisipasi mereka dalam perang," tambah Heath.

Heath menambahkan sejumlah veteran yang berperang dalam pertempuran itu akan pensiun dalam beberapa tahun mendatang. Maka artinya militer China tidak memiliki personel yang mempunyai pengalaman bertempur.

Menurut Heath tidak berarti 'kelemahan' ini membuat China tidak bisa 'memenangkan' konflik besar. Tentu para pakar masih memperdebatkan apakah akan ada pihak yang 'menang' dalam perang besar. Tapi hasil perang dapat dihitung dari kerugian hilangnya nyawa, ekonomi, kehancuran lingkungan dan kekacauan politik.

'Kemenangan' dalam perang besar artinya, salah satu pihak berhasil mencapai tujuan strategisnya sambil menahan pihak lawan meraih hal yang sama.  Heath menengok ke sejarah untuk menjelaskan peran pengalaman dalam perang.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini