Resiliensi dan Optimisme Humas di Ambang Resesi

Resiliensi dan Optimisme Humas di Ambang Resesi Foto: Dok. Perhumas

Ada beberapa hal yang bisa menjadi pegangan. Pertama, memanfaatkan kecanggihan teknologi. Pandemi membuat aktivitas masyarakat terhambat, tapi perusahaan harus tetap menjaga relasi dengan para stakeholders. Produk teknologi seperti media sosial, blog, situs, podcast, webinar, dan lainnya menjadi media untuk menjangkau mereka. Namun, pastikan humas telah membuat communication plan terlebih dahulu. 

Kedua, berpikir paradoks. Banyak praktisi berpikir ketika kompetitor menahan ekspansi, maka waktunya kita beristirahat sejenak. Ini pemikiran yang keliru. Justru, ketika kompetitor mengurangi aktivitas mereka, sekarang adalah kesempatan bagi humas untuk terus menjaga relasi dengan stakeholders.

Kompetisi merebut perhatian audiens pun akan semakin mudah. Sehingga, ketika krisis berakhir, perusahaan kita yang paling diingat oleh stakeholders karena brand kita tetap ada dalam pikiran dan benak mereka.

Ketiga, kreatif. Aktivitas humas tidaklah searah, melainkan dua bahkan multi-arah. Kita harus menyampaikan pesan dengan alasan yang jelas dan relevan. Misalnya saja yang dilakukan IKEA.

Ketika gerai mereka tutup akibat pandemi, perusahaan asal Swedia ini tetap menjalankan aktivitas humas seperti menghadirkan resep bakso andalan mereka hingga cara menata ruangan. Di sini, IKEA terus menjaga hubungan dengan para stakeholders melalui konten yang kreatif dan relevan.

Anda, saya, dan kita semua tidak bisa memprediksi kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Namun, yang pasti, selalu ada peluang di tengah ancaman ini. Kita pun harus memiliki karakter resiliensi atau kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit, seperti masa resesi sekarang ini. Sehingga, semangat optimisme humas tetap terjaga.

Tampilkan Semua
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini