Awas, Jangan Salah Tentukan Provider Internet Rp9 Triliun

Awas, Jangan Salah Tentukan Provider Internet Rp9 Triliun Foto: Sufri Yuliardi

Rektor Universitas Al Azhar Indonesia, Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, meminta agar anggaran Rp 9 triliun dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) untuk bantuan kuota internet tidak mubazir dan tidak disalahgunakan.

Asep memberi contoh provider telekomunikasi yang membagi kartu perdana gratis di sebuah daerah padahal jaringannya di daerah itu tak memenuhi standar.

"Akibatnya siswa atau guru yang mendapatkan kuota internet dari Kemendikbud dan menggunakan kartu dari provider tersebut menjadi mubazir karena tidak bisa digunakan untuk pembelajaran secara maksimal," kata Asep.

Ia berharap Kemendikbud atau institusi lain yang ditugasi menangani pemberian kuota internet ini jeli menentukan siapa provider yang layak dipakai di sebuah daerah agar tujuan pemberian kuota untuk pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini tepat sasaran.

"Saya melihat pemberian kuota ini sangat positif. Tujuannya agar siswa, guru, mahasiswa, dan dosen tetap bisa melakukan pembelajaran jarak jauh di masa pandemi Covid-19 ini. Tapi harus tepat sasaran. Jangan sampai menjadi mubazir hanya karena salah provider," ujarnya.

Seperti diketahui, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengalokasikan anggaran sebesar Rp 9 triliun untuk uang kuota internet. Dia menjelaskan pihaknya sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp 9 triliun sebagai tunjangan pulsa bagi tenaga pengajar dan peserta didik yang terdampak pandemi virus corona Covid-19.

Menurut Nadiem, anggaran tersebut harus diguyurkan demi menunjang pembelajaran jarak jauh selama tiga hingga empat bulan ke depan.

Dalam kaitan itu, belajar jarak jauh dengan menggunakan sistem online atau daring harus didukung infrastruktur internet yang mumpuni. Apabila tidak memadai layanan tersebut maka pembelajaran jarak jauh hanya menjadi kendala dan merepotkan, serta menyulitkan orang tua, murid, mahasiswa, guru dan dosen, karena mungkin saja kecepatan internet lamban atau blank spot di sejumlah titik di daerah tersebut.

Telkomsel masih unggul dalam hal kecepatan pengunduhan atau download dan pengunggahan atau upload dalam jaringan internet 4G LTE.

Di Indonesia, ada lima provider komunikasi seluler, yaitu Telkomsel, Indosat Ooredoo, XL Axiata, Smartfren, dan 3 Tri. Penyedia layanan data internet dan telekomunikasi itu memiliki keunggulannya masing-masing.

Dirangkum dari berbagai sumber, Telkomsel masih unggul dalam hal kecepatan pengunduhan atau download dan pengunggahan atau upload dalam jaringan internet 4G LTE.

Setidaknya demikian laporan terbaru dari perusahaan pemetaan cakupan jaringan nirkabel, OpenSignal, untuk periode semester pertama tahun 2018.

Kecepatan download operator pelat merah tersebut berada di kisaran 12,9 Mbps. Sementara itu, kecepatan upload rata-rata-nya 7,3 Mbps.

Meski memimpin, kecepatan download rata-rata Telkomsel sejatinya menurun dibandingkan laporan semester kedua 2017 yang mencapai 14,6 Mbps. Bahkan, jika dilihat secara keseluruhan (3G dan 4G), kecepatan download Telkomsel hanya 8,4 Mbps atau kalah dari Smartfren.

Dalam laporan terbaru, Smartfren menunjukkan pertumbuhan kecepatan internet yang signifikan. Untuk kecepatan download 4G LTE dan gabungan dengan 3G, peningkatannya mencapai 44 persen, yaitu dari 6,8 Mbps menjadi 9,8 Mbps.

Secara keseluruhan, ada tujuh indikator yang ditetapkan OpenSignal pada laporan kinerja operator selular periode awal 2018 ini.

Telkomsel memenangkan lima indikator, masing-masing adalah operator dengan kecepatan download 4G dan 3G paling baik, kecepatan upload 4G terbaik, serta latensi 3G dan 4G terbaik.

Dua indikator lainnya dimenangkan Smartfren. Produsen Andromax terebut memiliki kecepatan download gabungan terbaik, dan mengakomodir ketersediaan 4G paling mumpuni.

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini