Influencer Jadi Rujukan Publik, Pesannya Dinilai Lebih Mengena

Influencer Jadi Rujukan Publik, Pesannya Dinilai Lebih Mengena Foto: MPR

Pemanfaatan influencer yang dilakukan oleh pemerintah dinilai merupakan hal wajar dan lumrah di tengah perkembangan dunia digital dan juga pengaruh media sosial yang sangat besar. Bahkan, penggunaan influencer, sejatinya sudah jauh digunakan sebelum media sosial hadir, yang dilakukan oleh para tokoh masyarakat untuk menyosialisasikan berbagai hal.

Sehingga, justru menjadi aneh jika pemerintah tidak menggunakan media sosial untuk menjelaskan program-programnya agar masyarakat tidak salah mengerti. Oleh sebab itu, media sosial hadir sebagai penyampai pesan. Juga, tidak tepat penilaian bahwa menggunakan influencer, komunikasi publik yang dimiliki pemerintah lemah. 

Henri Subiakto, Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika dalam diskusi “Influencer dan Pemerintahan Jokowi,” Jumat (4/10/20), menyampaikan, penggunaan influencer atau opinion leader merupakan hal wajar. Menurutnya, di masyarakat itu ada masyaraat yang aktif yang pasif, meraka yang status sosial tinggi, biasa punya jaringan hubungan banyak, lebih produktif dan biasanya menjadi rujukan masyarakat yang pasif, makanya muncul opion leader. 

Menurut Hendri, di era digital, semua orang berkomunikasi dan bisa menjadi penyampai pesan. Apalagi oleh tokoh publik dengan pengikut mencapai jutaan atau puluhan juta. Fakta baru itu, menjadi bukti bahwa ada ‘new media’ dan dapat digunakan untuk menyampaikan berbagai pesan ke publik. 

“Mereka yang punya pengikut jutaan itu aset negara, mereka masyarakat juga,” ucap Hendri.  

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini