Karena Nila Setitik, Rupiah Anjlok di Hadapan Mata Uang Semuanya

Karena Nila Setitik, Rupiah Anjlok di Hadapan Mata Uang Semuanya Foto: Antara/Mohamad Hamzah

Kinerja nilai tukar rupiah tertekan pada perdagangan spot hari ini, Jumat, 4 September 2020. Memerah di hadapan banyak mata uang, rupiah terus bergerak mendekat ke Rp14.800 per dolar AS.

Dilansir dari RTI, sampai dengan pukul 10.00 WIB, rupiah terkoreksi -0,31% ke level Rp14.717 per dolar AS. Level tersebut sudah membaik jika dibandingkan dengan pagi tadi, di mana rupiah anjlok hingga ke Rp14.773 per dolar AS. Rupiah juga memerah terhadap tiga mata uang global lainnya, yakni dolar Australia (-0,13%), poundsterling (-0,21%), dan euro (-0,22%).

Baca Juga: Dewan Moneter Beri Sinyal Bahaya, Nilai Tukar Rupiah Ketar-Ketir

Baca Juga: Tak Berkilau! Harga Emas Antam Jatuh Lagi Hari Ini

Sementara itu, di tingkat regional, rupiah ambruk menjadi yang paling lemah se-Asia. Rupiah tengah tumbang atas ringgit (-0,28%), won (-0,24%), dolar Hong Kong (-0,21%), dolar Taiwan (-0,16%), yen (-0,15%), yuan (-0,09%), dan baht (-0,04%). 

Selain lonjakan kasus Covid-19 dan potensi resesi ekonomi RI, pergerakan rupiah tertekan oleh polemik pembentukan Dewan Moneter yang hingga kini masih menuai perdebatan panas. Banyak pihak menyesalkan keputusan pemerintah tersebut, termasuk Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Faisal Basri.

Baca Juga: Jangan Remehkan Rupiah! Tadi Teraniaya, Sekarang Juara Dunia!

Ia menilai, langkah pembentukan Dewan Moneter yang diketuai oleh Menteri Keuangan tidak tepat untuk menyelesaikan masalah mengenai sumber pendanaan baru untuk menopang APBN. Apalagi, Dewan Moneter berpotensi mengganggu independensi Bank Indonesia yang seharusnya bebas dari campur tangan pemerintah maupun pihak lain.

"Please, masalahnya di fiskal dan kementerian teknis, ini moneter yang diobok-obok solusinya ... Jadi ini diselesaikan dengan moneter. Gatal tangan kita, kaki yang diamputasi, apa salahnya moneter ini? Yang salah tax rasio kecil, turun terus, gagal menarik pajak dari sektor ekonomi yang terus tumbuh," pungkasnya, Kamis, 3 September 2020.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini