PTPN Grup Serius Tembus Ekspor CPO ke Pasar Global

PTPN Grup Serius Tembus Ekspor CPO ke Pasar Global Foto: Antara/Aswaddy Hamid

Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) dan anak perusahaan di sektor perkebunan kelapa sawit berkomitmen untuk mentransformasikan minyak sawit (crude palm oil/CPO) berkelanjutan dengan skema sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), dan International Sustainability & Carbon Certification (ISCC) di Indonesia.

Penerapan sertifikasi berkelanjutan ini memberikan manfaat kompetitif bagi bisnis perseroan serta memenuhi tuntutan stakeholders terutama pasar global.

Baca Juga: Kinerja CPO Indonesia Tertolong Pemulihan Pasar Ekspor

Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Mohammad Abdul Ghani, menjelaskan, saat ini tuntutan industri minyak kelapa sawit di pasar global makin dinamis. Hal ini menjadi keharusan perseroan menerapkan aspek keberlanjutan sebagai bagian komitmen perusahaan memberi manfaat bagi sosial masyarakat dan lingkungan.

"Jadi, sektor perkebunan kelapa sawit bukan hanya menjadi komoditas strategis dan prospektif, melainkan juga bagian solusi untuk mengatasi kemiskinan dan lingkungan, termasuk sebagai bukti bahwa budi daya kelapa sawit telah sesuai kaidah prinsip berkelanjutan," ujar Ghani, Jumat (14/8/2020).

Ghani menilai, implementasi standar minyak sawit berkerlanjutan menggunakan standar ISPO dan RSPO serta ISCC adalah salah satu cara mengurangi dan membatasi kerusakan lingkungan dan mengurangi bahaya perubahan iklim.

PTPN Grup menargetkan semua (100%) pabrik dan kebun meraih Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), dan International Sustainability & Carbon Certification (ISCC) secara bertahap pada tahun 2025.

Ghani menuturkan, sertifikasi minyak sawit berkelanjutan, menurut dia, mendorong pekerja dan meningkatkan kesejahteraan serta hubungan baik dengan masyarakat sekitar dengan mengadopsi prinsip dan kriteria tentang best practices yang akan meningkatkan pertumbuhan tanaman serta peningkatan produktivitas.

"Tidak hanya memastikan diperolehnya sertifikasi perkebunan PTPN Grup, tapi juga mendorong ekspor produk CPO untuk bisa tembus ke pasar global seperti Eropa, Amerika Serikat, Afrika dan terus mengembangkan kapabilitas agar diakui produk PTPN mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia internasional," tutur Ghani.

Kondisi ini tentu saja berdampak pada citra kelapa sawit Indonesia di pasar global yang secara tidak langsung akan berpengaruh pada menguatnya harga CPO. Apalagi, penerapan sertifikasi ISPO, RSPO, dan ISCC yang harus dipatuhi dan diikuti seluruh anak perusahaan PTPN Grup.

Ghani mengatakan, untuk memenuhi standar produk bersertifikat, perseron memiliki strategi menjadikan standar sustainable sebagai komitmen dan memasukkannya ke dalam kebijakan perseroan serta mengoptimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki.

"Kendati masih ada beberapa kendala, kuncinya adalah komitmen dan konsitensi manajemen mulai dari top manajemen sampai pegawai pelaksana harus sama," ujarnya.

Menurutnya, aspek sustainability menjadi yang terdepan di sektor industri sawit. Hal ini terbukti dari PTPN Grup yang bertekad menjadi perusahaan sawit terbesar di Indonesia dengan semua produk komoditas tersertifikasi ISPO, RSPO dan ISCC yang terintegrasi dengan Sistem Manajemen Mutu, Lingkungan, Pengelolaan Risiko, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Good Corporate Governance (GCG) dan Persyaratan Kriteria Penilaian Kinerja Unggul (KPKU) dan ditargetkan bisa terealisasi pada tahun 2025.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini