Soal Pidato Jokowi, Indef Menilai Kelewat Optimis

Soal Pidato Jokowi, Indef Menilai Kelewat Optimis Foto: Sufri Yuliardi

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai realisasi stimulus untuk sejumlah sektor saat ini masih rendah untuk pulih dari pandemi COVID-19, namun di sisi lain pemerintah mematok proyeksi pertumbuhan 2021 yang cukup optimistis di 4,5 - 5,5 persen.

"Kalau dilihat dari pertumbuhan ekonomi apakah bisa dari resesi kemudian loncat ke 4,5 persen karena masih menghadapi pandemi yang berpengaruh tadi, kemudian realisasi stimulus-stimulus yang sudah ada masih rendah,” kata Bhima dikutip dari Antara di Jakarta, Jumat.

Realisasi stimulus tersebut, di antaranya stimulus untuk sektor kesehatan yang masih di kisaran delapan persen dan realisasi untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di angka 26 persen.

"Masih sangat rendah untuk bisa mengembangkan perekonomian 2021, bahkan kemungkinan resesi masih berlanjut di 2021,” katanya.

Terkait nilai tukar rupiah, Bhima mengatakan masih berpotensi di level Rp15.500 per dolar AS karena realisasi investasi, devisa dari sektor pariwisata serta kinerja ekspor masih rendah.

"Satu-satunya yang bisa diandalkan adalah pemerintah cetak utang. Sebenarnya ini tidak berkelanjutan dengan pelebaran defisit dan pembiayaan cukup besar,” katanya.

Adapun, lanjut dia, inflasi mesti diperhatikan meskipun saat ini permintaannya sedang rendah karena adanya faktor berbagi beban yang dilakukan Bank Indonesia di mana bisa mengancam inflasi 2021.

“Karena adanya kenaikan uang yang beredar pada saat permintaan sedang rendah juga bisa meningkatkan inflasi di atas tiga persen, bahkan bisa mencapai lima persen,” ujarnya.

Presiden Joko Widodo dalam Pidato Penyampaian RUU APBN 2021 dan Nota Keuangan pada Rapat Paripurna DPR-RI Tahun Sidang 2020-2021 di Gedung MPR/DPR, menyebutkan pertumbuhan ekonomi 2021 diperkirakan akan mencapai 4,5 persen-5,5 persen.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini