Ya Tuhan, Pandemi Makin Gempur Sektor Properti Tanah Air

Ya Tuhan, Pandemi Makin Gempur Sektor Properti Tanah Air Foto: Antara/Galih Pradipta

Penurunan penjualan properti di Indonesia terus berlanjut. Bank Indonesia (BI) mencatat terjadi kontraksi pada penjualan sebesar -26,60% (yoy) sedikit membaik dari kontraksi -43,19% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Namun, masih lebih dalam dari kontraksi -15,79% (yoy) pada triwulan I-2019.

Penurunan penjualan ini serentak terjadi pada semua tipe rumah baik tipe rumah menengah, rumah tipe besar, dan rumah tipe kecil. Terhambatnya pertumbuhan penjualan properti residensial disebabkan beberapa faktor terutama adanya pandemi Covid-19, penerapan PSBB, serta suku bunga KPR.

"Untuk suku bunga KPR, meskipun rata-rata suku bunga KPR triwulan II-2020 sebesar 8,92% turun dibandingkan 9,12%, namun masih dirasa cukup tinggi bagi konsumen terutama untuk rumah tpe kecil dan menengah," demikian hasil survei yang diterbitkan BI seperti dikutip Warta Ekonomi pada Rabu (12/8/2020).

Baca Juga: 5,4 Juta Ton Pupuk Bersubsidi Sudah Mendarat ke Tangan Petani

Baca Juga: Masuk Resesi atau Tidak, Jokowi: Kuncinya di Kuartal III-2020

Sementara itu, faktor lain yang dinilai masih menjadi penghambat antara lain proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR, masalah perizinan (birokrasi), dan kenaikan harga bahan bangunan.

Tak hanya penjualan, tren harga penjualan properti residensial mengindikasikan berlanjutnya perlambatan. Hal ini tercermin dari kenaikan indeks harga properti residensial (IHPR) triwulan II-2020 sebesar 1,59% (yoy) lebih rendah dibandingkan 1,68% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Perkembangan ini disebabkan oleh perlambatan kenaikan harga pada properti residensial tipe kecil.

"Perlambatan IHPR diprakirakan akan berlanjut pada triwulan III-2020 dengan pertumbuhan sebesar 1,19% (yoy)," pungkas BI.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini