China Endus Aktivitas Bio Militer AS, Apa Maksudnya?

China Endus Aktivitas Bio Militer AS, Apa Maksudnya? Foto: Reuters/Thomas Peter

Kementerian Luar Negeri China (MFA) mendesak Amerika Serikat (AS) menjelaskan aktivitas bio militernya secara global di tengah perhatian dunia internasional.

AS juga seharusnya memperhatikan Konvensi Senjata Biologi (BWC) di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa dan tidak menghalangi negosiasi protokol konvensi tersebut.

Baca Juga: Bu Retno dan Pompeo 'Duduk Bareng', Bahas Laut China Selatan Nih?

Demikian disampaikan juru bicara MFA Wang Wenbin dalam pernyataan persnya, Selasa (4/8/2020). 

"AS harus bersikap transparan dan bertanggung jawab atas kegiatan militernya di seluruh dunia," kata Wang, ketika menanggapi laporan tentang pengerahan militer AS di kawasan Asia Timur yang dianggapnya melanggar BWC.

Tindakan militer itu telah memicu protes yang menuntut penutupan laboratorium militer dan pembubaran pasukan. Menurut Wang, militer AS melakukan kegiatan biologi di berbagai negara sehingga memicu kecurigaan dan pertentangan yang meluas karena mereka tidak transparan, berbahaya, dan tidak rasional.

AS merupakan negara yang paling banyak melakukan kegiatan biomiliter di dunia namun tidak melaporkan ke BWC.

"Banyak negara penerima program tidak tahu apa yang dilakukan laboratorium militer AS," Wang menambahkan.

Aktivitas tersebut, lanjut dia, sangat berbahaya karena beberapa aktivitas biologi berkaitan erat dengan patogen berisiko tinggi. Menurut Wang, kegiatan itu akan menjadi bencana bagi negara penerima, negara tetangga, atau bahkan seluruh dunia kalau terjadi kecelakaan.

AS adalah satu-satunya negara yang membangun laboratorium biologi di seluruh dunia dan mengumpulkan material biologi dan sumber daya di luar wilayahnya sendiri. AS juga satu-satunya negara yang menghalangi negosiasi protokol termasuk verifikasi bagi BWC.

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini