PSBB Dilonggarkan, Industri Manufaktur RI Belum Berlari Kencang

PSBB Dilonggarkan, Industri Manufaktur RI Belum Berlari Kencang Foto: Sufri Yuliardi

Industri manufaktur Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Laporan IHS Markit menyebutkan bahwa purchasing managers' index (PMI) atau indeks manajer pembelian yang menjadi indikator kinerja industri manufaktur Indonesia mulai menunjukkan tren kenaikan.

Kepala Ekonom IHS Markit, Bernard Aw, menyatakan bahwa PMI Indonesia pada Juli 2020 berada pada level 46,9. Angka ini naik delapan poin di bawah bulan sebelumnya sebesar 39,1. PMI di atas 50 menunjukkan manufaktur tengah ekspansif, sedangkan di bawah 50 menunjukkan manufaktur mengalami resesi.

Baca Juga: Udah Dikerek-kerek, Industri Manufaktur RI Belum Juga Bangkit

"Angka 46,9 merupakan angka tertinggi sejak bulan Februari. Namun, capaian 46,9 tetap di bawah 50 yang berarti tidak ada tingkat perubahan dan menunjukkan penurunan lebih lanjut dalam sektor ini," kata Bernard pada Senin (3/8/2020).

Lebih lanjut dikatakan, penghambat kenaikan PMI di antaranya adalah penurunan lebih lanjut pada output bulan Juli, meskipun tingkat penurunan paling lambat selama lima bulan. Di sisi lain, volume produksi yang lebih rendah sering dikaitkan dengan dampak buruk pandemi Covid-19 pada permintaan.

"Perusahaan manufaktur menunjuk pada pembukaan kembali pabrik secara bertahap karena langkah-langkah pengendalian dilonggarkan. Langkah-langkah bertahap untuk memulai kembali perekonomian Indonesia juga menyebabkan menurunnya permintaan secara keseluruhan," ujarnya.

Ia mengatakan, penurunan total pesanan baru hanya sedikiit pada bulan Juli meskipun ada penurunan besar dalam penjualan ekspor. Sementara itu, beban biaya rata-rata meningkat tajam pada bulan Juli dengan inflasi yang diakibatkan oleh melemahnya rupiah dan kenaikan harga bahan baku.

"Rantai pasokan tetap di bawah tekanan dengan pembatasan terkait Covid-19 yang berkelanjutan terus menghambat vendor untuk melakukan pengiriman. Produsen juga menyoroti kekurangan pasokan dan kurangnya layanan transportasi yang memadai. Akhirnya, perusahaan mempertahankan pandangan positif mereka tentang tahun depan dengan hampir dua pertiga panelis mengharapkan kenaikan output selama 12 bulan ke depan. Optimisme terutama didasarkan pada harapan bahwa situasi Covid-19 akan membaik dalam beberapa bulan mendatang," pungkasnya.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini