Obama Tiba-Tiba Serang Donald Trump: Pemerintah yang Terkutuk!

Obama Tiba-Tiba Serang Donald Trump: Pemerintah yang Terkutuk! Foto: (Foto: Istimewa)

Mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, mengkritik keras upaya Partai Republik menindas para pemilih dalam pidato pemakaman pemimpin hak asasi sipil John Lewis.

Dia menyatakan, “Orang yang berkuasa menyerang hak suara kita dengan bedah presisi.”

Obama menyerukan reformasi secara luas. Obama juga mengecam pembunuhan George Floyd oleh oknum polisi kulit putih dan pengerahan agen-agen federal untuk melawan demonstran damai.

Baca Juga: Terungkap! Bobol Twitter Bill Gates Dkk, Peretas Gunakan Cara Ini

Lewis meninggal dunia awal bulan ini akibat kanker pada usia 80 tahun. Dia merupakan salah satu dari “Enam Besar” para pemimpin hak asasi sipil, termasuk Martin Luther King Jr. Lewis turut mengorganisir Pawai 1963 di Washington yang sangat bersejarah.

Dalam pidato di Gereja Baptis Ebeneezer, Atlanta, Obama meluncurkan serangan keras pada pemerintahan Presiden AS, yakni Donald Trump, dan beberapa departemen kepolisian.

Baca Juga: Trump Ancam Para Miliarder Teknologi: Saya akan Adili Kalian!

“Hari ini kita menyaksikan dengan mata kita sendiri, personil polisi menekan dengan lutut pada leher kulit hitam Amerika. Kita dapat saksikan pemerintah federal kita mengirim para agen menggunakan gas air mata dan tongkat terhadap demonstran damai,” ungkap Obama, dilansir BBC.

“Pemerintah melakukan tindakan terkutuk untuk mengecilkan hati orang dari memilih dengan menutup tempat pemungutan suara dan menerapkan hukum pembatasan identitas pada minoritas dan pelajar,” papar Obama.

Obama menyebut peran badan pos AS dalam mengirim surat suara di tengah pandemi virus corona. Sebelumnya, Trump menyebut pemilu presiden 2020 pada November harus ditunda karena pemungutan suara lewat pos memungkinkan kecurangan pemilu skala besar. Trump mengungkapkan tuduhan itu tanpa bukti.

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini