Sandiaga Uno: Pemerintah, Cepat Selamatkan UMKM!

Sandiaga Uno: Pemerintah, Cepat Selamatkan UMKM! Foto: Boyke P. Siregar

Pengusaha Sandiaga Salahuddin Uno menyebut ada sebanyak 163.713 UMKM dan 1.785 koperasi  yang terkena dampak dari Covid-19. Dia menegaskan, pemerintah harus cepat tanggap dengan adanya hal tersebut.

"Terpuruknya UMKM karena turunnya permintaan secara signifikan menjadi permasalahan utama bagi ekonomi. Oleh karenanya, guna mempertahankan hidup, masyarakat harus bijak dalam merancang strategi dan inovasi dalam berbisnis dengan memilih sektor bisnis yang menjadi prioritas sektor Covid-19," kata Sandiaga di Jakarta, Selasa (28/7/2020).

Baca Juga: Sandiaga Uno Jadi Pengusaha Gara-Gara Kecelakaan

Menurutnya, pemerintah dan korporasi perlu memperhatikan bagaimana cara meningkatkan kewirausahaan melalui generasi milenial dengan 55% ingin mandiri dengan membuka usaha sendiri. Tentu ini menjadi gerbang di era new normal dan masyarakat harus sudah mulai melakukan akselerasi digital dengan cara kolaborasi atau mewadahi anak muda dalam memulai usaha.

"Tahun 1998 dan 2008 sektor korporasi sempat bailout akibat krisis yang terjadi di negara ini, tapi UMKM tetap kokoh dan tangguh sebagai frontman dalam menyelamatkan perekonomian nasional. Namun, 2020 UMKM menjadi yang paling terpukul jatuh di ronde awal," tambahnya.

Sandi mengatakan, dengan adanya hal tersebut, para pelaku UMKM juga harus memanfaatkan platform lain seperti digitalisasi. Namun, permasalahannya sekarang banyaknya UMKM yang gagal masuk ke platform digital karena kurangnya produksi ketika adanya permintaan yang banyak ketika masuk market online.

Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah akuntabilitas dalam mengelola keuangan dan mitigasi krisis. Sandi menilai, banyak pelaku UMKM yang belum memahami bagaimana mengelola keuangan secara efektif.

"Kami seringkali menemukan kasus bahwa UMKM masih buta akuntansi. Tidak adanya catatan keuangan bisnis akan menyulitkan UMKM apa yang harus diprioritaskan," ujarnya.

Di tempat yang sama, Founder KAHMIPreneur Kamrussamad menegaskan, Covid-19 berdampak pada semua aspek mulai dari kesehatan, sosial, ekonomi, hingga keuangan. Dari sisi ekonomi, pandemi Covid-19 menyebabkan perlambatan pertumbuhan mulai dari -0.4% hingga 1%. Selain itu, ada peningkatan kemiskinan dan juga pengangguran mulai dari tiga persen hingga lima persen.

"Saya juga mengambil contoh di negara Asia seperti Korea Selatan, Singapura, dan Thailand yang pertumbuhan pada kuartal pertama hingga minus mulai dari minus 0,7 hingga 1.8. Tidak hanya itu, ada kuartal kedua juga makin parah yaitu minus 3.3 hingga minus 12," katanya.

Dia menegaskan, untuk sebaran koperasi tercatat 126.343 unit yang masih aktif. Semuanya terdiri dari 756 unit dari Kementerian Koperasi dan UKM, dinas provinsi ada 4.672, dan Dinas Kabupaten dan Kota ada sebanyak 120.915 unit.

"Sedangkan jenisnya ada untuk simpan pinjam ada 15%, koperasi jasa 3%, konsumen ada 59%, pemasaran 2%, dan produsen 21%,' tegasnya.

Terkait pengembangan pada era 4.0, koperasi perlu didorong masuk digitalisasi modern. Selain itu, perlu juga kolaborasi bisnis sesama koperasi maupun pelaku usaha lainnya. "Yang paling utama adalah pengembangan sumber daya manusianya," pungkasnya.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini