Jepang Butuhkan Cangkang Sawit, Indonesia: Tangkap Peluang!

Jepang Butuhkan Cangkang Sawit, Indonesia: Tangkap Peluang! Foto: Agus Aryanto

Tak hanya dikenal sebagai sumber pangan, kelapa sawit juga sudah dicap sebagai komoditas zero waste nan multifungsi. Hampir semua bagian kelapa sawit termasuk cangkang dan TKKS (tandan kosong kelapa sawit) yang dianggap limbah juga berhasil mendapat perhatian sejumlah negara maju untuk diolah sebagai sumber energi terbarukan.

Jepang misalnya, telah mencanangkan kebijakan energi ramah lingkungan (green energy) dalam Basic Energy Plan 2030 yang menargetkan produksi listrik sebesar 1.065 Twh. Dalam kebijakan tersebut, 3,7–4,6 persen sumber energinya berasal dari bahan baku biomassa.

Baca Juga: Soal Green Energy, Kelapa Sawit Paling Mengerti!

Pemerintah Jepang mendorong penggunaan energi terbarukan dalam skala besar dengan kebijakan Feed in Tariff System (FIT) yang diperkenalkan sejak delapan tahun lalu. Dengan skema tersebut, pemerintah Jepang mewajibkan perusahaan listrik membeli listrik dari sumber energi terbarukan, baik yang berasal dari angin, tenaga surya, dan biomassa dengan tarif sama selama 20 tahun.

Kebijakan insentif yang diberikan pemerintah Jepang melalui FIT telah membuat siklus investasi ke sektor energi terbarukan mengalami peningkatan yang masif. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Srie Agustina, menyatakan bahwa Indonesia berpeluang besar untuk memenuhi pasokan biomassa yang dibutuhkan Jepang tersebut salah satunya berupa cangkang kelapa sawit.

Baca Juga: Komoditas Andalan Ekspor di Masa Pandemi, Sawit Terkuat

“Revolusi proyek-proyek pembangkit energi di Jepang ke sektor energi terbarukan yang banyak terjadi saat ini membutuhkan pemenuhan pasokan bahan baku biomassa. Ini membuka peluang bagi Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi hutan dan penghasil minyak kelapa sawit (palm oil) terbesar dunia, untuk mengisi kebutuhan biomassa di Jepang, khususnya yang berasal dari cangkang sawit (palm kernel shell/PKS) dan pelet kayu (wood pellet)," lanjutnya.

Atase Perdagangan Tokyo, Arief Wibisono mengungkapkan, konsumsi cangkang sawit dan pellet kayu di Jepang cukup besar sehingga peluang bagi Indonesia juga luas. Produk biomassa Indonesia tentu memiliki peluang memimpin pasar di Jepang asalkan kualitas dan kuantitas produk domestik dapat dipertahankan sesuai standard yang dibutuhkan pasar Jepang.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini