Jangan Serang Pemerintah Seenaknya, Negara Gak Butuh!

Jangan Serang Pemerintah Seenaknya, Negara Gak Butuh! Foto: Antara/Puspa Perwitasari

Senayan prihatin dengan munculnya berita-berita yang menghantam pemerintah terkait rencana uji klinis vaksin Covid-19 fase III Agustus mendatang. Para pengkritik diminta tidak bicara seenaknya.

Anggota Komisi IX DPR, Rahmad Handoyo, bilang bahwa ada yang mengatakan presiden tidak punya nurani. Ada yang menyebut Indonesia jadi kelinci percobaan. Indonesia membeli vaksin yang tidak teruji lah.

“Ini memprihatinkan sekali, karena yang mengkritik itu sendiri sebenarnya tidak memahami apa yang diucapkannya,” kata Rahmad dalam keterangannya kepada wartawan, di Jakarta, Jumat (24/7/2020). 

Baca Juga: Resah! Gerindra: Pak Jokowi Tolong Bertindak, Copot Saja Nadiem!

Dia mengatakan, para figur publik, para politisi yang asal ngomong, asal kritik tapi tidak kompoten di bidang kesehatan, pada akhirnya merugikan umat. Sebab apa yang diucapkan pasti akan diikuti oleh umat. Apa yang dikatakan pejabat atau politsi itu akan diikuti oleh pengikutnya. 

“Kita ini bersama menyelamatkan umat. Pemerintah menjadi pemimpin dalam perang melawan Covid-19 dengan cara seperti ini (melakukan uji klinis). Jadi, jangan serang pemerintah seenaknya. Bicaralah sesuai dengan kompetensi Anda. Bicaralah sesuai dengan keahlian Anda,” katanya. 

Kalau pun mau berbicara soal kesehatan, khususnya menyangkut soal Covid-19, kata Rahmad, hendaknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan ahli di bidang kesehatan.

Baca Juga: Menristek: Produksi Vaksin Itu Gak Bisa dalam Waktu Singkat

“Pahami terlebih dahulu mengapa uji klinis vaksin Covid19 asal China itu pen ting dilakukan di Indonesia. Kalau tidak paham tapi nyinyir, itu sama saja dengan mengejek,” katanya. 

Dikatakan, proses uji klinis vaksin Covid-19 hasil riset dari perusahaan farmasi China Sinovak Biotech Co itu memang harus dilakukan di Indonesia. Hal itu menjadi syarat mutlak yang harus dilakukan. Dikatakan, uji klinis dilakukan di Indonesia bermaksud untuk mengetahui sesegara mungkin apakah vaksin tersebut sesuai dengan virus yang ada di Indonesia. 

“Sesuai dengan pernyataan para ahli, kan virus Covid-19 itu sendiri bermacam-macam. Virus di China berbeda dengan yang ada di Amerika, yang di Amerika berbeda dengan yang ada di Eropa. Bahkan virus di Indonesia berbeda dengan yang ada di negara lain. Maka dengan itu menjadi syarat mutlak bahwa uji klinis itu harus dilakukan di Indonesia. Kalau tanpa uji coba dikhawatirkan, triliunan rupiah kita beli ternyata vaksin itu tidak cocok dengan virus yang ada di Indonesia. Jadi mubazir,” katanya. 

Sekali lagi, kata Rahmad, dalam situasi pandemi saat ini mestinya bahu-membahu mengatasi persoalan. Saling menyemangati. Negara membutuhkan orang yang tidak asal ngomong. Boleh kritik tapi memberikan solusi.

“Kalau ada orang yang menyerang pemerintah seenaknya, ya yang kasihan kan umat. Komentar-komentar yang tidak pada tempatnya itu pada akhirnya akan melemahkan semangat umat dalam melawan corona. Kita perlu bersatu dan kita tidak butuh orang yang nyinyir asal buka suara,” katanya. 

Dikatakan Rahmad, yang tidak memahami persoalan karena bukan bidangnya, lebih baik diam. Jangan memaksakan diri berkomentar sekadar muncul di media. “Marilah kita sama-sama menahan diri. Marilah kita belajar lagi berkomentar sesuai bidang keahlian masing-masing,” katanya. 

Rencana uji klinis vaksin Covid-19 yang dijadwalkan pada Agustus ini memang sempat menuai pro dan kontra. Bahkan ada yang mendesak pemerintah agar Indonesia tidak menjadi kelinci percobaan vaksin Covid-19 yang baru tiba dari China tersebut.

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini