Pertamina & Kimia Farma Tingkatkan Industri Farmasi Nasional

Pertamina & Kimia Farma Tingkatkan Industri Farmasi Nasional Foto: Pertamina

PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) sebagai subholding refinery and petrochemical dari PT Pertamina (Persero) bersinergi dengan PT Kimia Farma Tbk mengoptimalkan potensi nilai tambah dari pengolahan produk turunan Petrokimia menjadi bahan baku farmasi seperti Paracetamol.

Sinergi tersebut ditandai dengan penandatangan nota kesepahaman (MoU) untuk menggali potensi kerja sama pengembangan industri penyedia bahan baku farmasi. Penandatanganan MoU dilakukan secara virtual antara Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional, Ignatius Tallulembang, dan Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk, Verdi Budidarmo, dengan disaksikan oleh Wakil Menteri BUMN- Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama PT Pertamina (Persero)-Nicke Widyawati, dan Direktur Utama Holding BUMN Farmasi (PT Biofarma (Persero) Tbk)-Honesti Basyir.

Baca Juga: Indonesia-India Jajaki Kerja Sama Pengembangan Farmasi

Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, sinergi ini sesuai arahan Presiden RI untuk meningkatkan kemandirian industri farmasi nasional dan sekaligus membantu menurunkan defisit neraca perdagangan Indonesia di sektor farmasi, mengingat 95% dari total kebutuhan bahan baku farmasi Indonesia masih dipasok melalui impor.

Menurutnya, sinergi ini berawal dari penjelasan dan kajian yang dilakukan Pertamina untuk mengoptimalkan bahan baku di Kilang Cilacap menjadi bahan baku farmasi.

"Tidak sampai satu bulan kajian sudah keluar. Saya bangga dan mengucapkan selamat kepada tim Pertamina atas kegesitannya dan kecepatannya merespons permintaan pemegang saham dalam hal ini pemerintah," ujar Budi dalam keterangan pers, Sabtu (25/7/2020).

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan, sesuai arahan pemerintah untuk mengurangi impor bahan baku farmasi, Pertamina telah menetapkan bahwa produk Petrokimia menjadi business line yang menjadi andalan di masa depan ketika terjadi transisi energi.

"Untuk itu, Pertamina mencoba identifikasi peluang untuk masuk pada bahan baku farmasi dan logistik. Gayung bersambut dengan Kimia Farma dan kita sudah melakukan penjajakan. Kami berterima kasih atas support pemerintah," ujar Nicke, Sabtu (25/7/2020).

Menurut Nicke, secara teknis Pertamina telah melakukan kajian bersama Kimia Farma sehingga selanjutnya akan diformulasikan dalam bentuk perjanjian kerja sama. Untuk mendukung realisasinya, Kilang Cilacap sudah dipersiapkan dan salah satunya untuk pengolahan Petrokimia.

Nicke menambahkan, setelah di Kilang Cilacap, akan dilanjutkan di kilang lainnya dengan skala dan jenis yang lebih banyak lagi karena salah satu fokus bisnis Pertamina di masa depan adalah Petrokimia. Sebagai holding, Pertamina akan mengawal proses ini agar dapat terwujud sesuai harapan Ppemerintah.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Holding BUMN Farmasi Honesti Basyir mengatakan, penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Kimia Farma ini berupa sinergi kerja sama industri dalam pengembangan penyedia bahan baku farmasi, yang meliputi aspek tekno-ekonomi dan aspek penelitian dan pengembangan.

"Satu hal yang menjadi fokus kami bahwa integrasi bisnis di Holding BUMN Farmasi perlu diiringi dengan menggandeng partner strategis untuk memperkuat kemampuan kompetitif terutama dalam menjamin suplai bahan baku farmasi dan pengembangan produk Petrokimia sehingga kami berharap dapat merasakan efisiensi dari kerja sama bisnis ini. Semoga kerja sama dengan Kilang Pertamina Internasional yang dinaungi oleh PT Pertamina (Persero) dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat yang signifikan bagi kita semua," ucap Honesti, Sabtu (25/7/2020).

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini