Turki Siap Tingkatkan Pengerahan Pasukan di Libya

Turki Siap Tingkatkan Pengerahan Pasukan di Libya Foto: Sindonews

Turki berencana meningkatkan jumlah pasukan militernya untuk mengantisipasi kemungkinan intervensi Mesir di Libya.

Hal ini sebagaimana laporan surat kabar Turkish Zaman yang dikutip Al Arabiya, merujuk pada pernyataan pejabat pemerintah yang tidak disebutkan namanya.

Baca Juga: Menhan Prabowo ke Turki? Oh, Mau Bahas Senjata Pak?

Laporan tersebut menyampaikan, pemerintah Turki menyiapkan rencana itu setelah parlemen Mesir pada Senin lalu mengizinkan pengerahan pasukan di luar negara itu. Sehingga ini memungkinkan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi untuk bertindak atas ancaman tindakan militernya terhadap pasukan yang didukung Turki di Libya.

Sumber-sumber Turki yang dikutip surat kabar Zaman menyebutkan, bahwa Turki siap menghadapi setiap serangan yang dilancarkan terhadap pasukannya di Libya.

"Kami siap menanggapi setiap serangan terhadap pasukan (Turki) di Libya, siapa pun penyerangnya," kata sumber itu.

Lebih lanjut, sumber tersebut menyebut, jika Mesir mengirim pasukan militer ke Libya, Turki memiliki rencana untuk meningkatkan pasukan dan peralatan militernya di Libya untuk menghadapi pasukan Mesir.

Penasihat keamanan utama Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, Ibrahim Kalin baru-baru ini mengatakan negaranya tidak ingin meningkatkan ketegangan di Libya atau untuk menghadapi Mesir di negara Afrika Utara.

Namun dia menekankan, bagaimanapun, Ankara terus mendukung Government of National Accord (GNA), yakni pemerintahan Libya yang diakui PBB.

Libya telah jatuh ke dalam kekacauan sejak penggulingan diktator Moammar Gaddafi pada 2011. Bentrokan antara dua pihak yang bertikai di negara Afrika Utara, Tentara Nasional Libya (LNA), yang dikomandoi Khalifa Haftar dan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA), yang dipimpin Fayez al-Serraj, telah meningkat baru-baru ini.

Banyak kekuatan asing yang mendukung berbagai sisi konflik dengan berbagai tingkat dukungan. Negara-negara yang paling menonjol adalah Turki yang mendukung GNA dan Mesir yang mendukung LNA.

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini