Temuan Baru: Asteroid Hantam Bumi-Bulan 800 Juta Tahun Lalu

Temuan Baru: Asteroid Hantam Bumi-Bulan 800 Juta Tahun Lalu Foto: Antara/Aloysius Jarot Nugroho

Ilmuwan memaparkan temuan baru mengenai hujan asteroid yang pernah terjadi di Bumi. Hujan asteroid diduga telah menghantam bulan dan Bumi 800 juta tahun lalu. Dampak dari periwtiwa ini kemungkinan telah memicu zaman es terbesar di Bumi.

Ada banyak tanda bahwa dampak kosmik memiliki efek besar pada sejarah Bumi. Misalnya, asteroid selebar 10 kilometer yang menghantam Bumi sekitar 66 juta tahun yang lalu dekat kota yang sekarang disebut Chicxulub di Meksiko.

Baca Juga: Astronom Usulkan Cara Baru Cari Planet Kesembilan, Bagaimana?

Hujan asteroid ini menghancurkan tiga perempat spesies hewan dan tumbuhan di Bumi. Spesies yang hancur termasuk sebagian besar dinosaurus. Peristiwa ini juga meninggalkan kawah raksasa lebih dari 180 km.

Dilansir di Space, disebutkan asteroid sebesar itu diperkirakan mampu menyerang Bumi hanya sekali setiap 100 juta tahun. Namun, erosi, gunung berapi, dan aktivitas geologis lainnya telah menghapus sebagian besar kawah terdampak di Bumi sehingga mengaburkan pengetahuan kita tentang tabrakan kosmik ini.

Dalam sebuah studi baru dari Jepang, untuk mempelajari lebih lanjut tentang dampak kuno hujan asteoid di Bumi, para ilmuwan menyelidiki bulan. Sebab, kawah bulan terpelihara dengan baik dalam ruang hampa di permukaan bulan.

Tim ilmuwan menyelidiki 59 kawah bulan, masing-masing dengan lebar 20 km atau lebih besar menggunakan pesawat ruang angkasa pengorbit bulan Jepang, Kaguya. Para peneliti menganalisis ketika kawah-kawah ini terbentuk dengan memeriksa cincin-cincin batu yang terlontar dari dampak yang menciptakannya.

Meteoroid kecil menghujani bulan dengan kecepatan yang dapat diprediksi, meninggalkan kawah dengan lebar mulai dari 100 hingga 1.000 meter. Dengan menghitung jumlah kawah kecil ini dalam ejecta kawah besar, ilmuwan dapat memperkirakan kapan kawah besar terbentuk.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini