Kerangka Open Banking Percepat Transformasi Digital Perbankan

Kerangka Open Banking Percepat Transformasi Digital Perbankan Foto: Unsplash/Rawpixel

Kala dampak pandemi Covid-19 mendera banyak bidang dalam perekonomian nasional, perilaku masyarakat turut berubah. Banyak nasabah perbankan konvensional beralih ke layanan digital sebagai respons atas pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Dalam hal sistem, kerangka open banking diyakini akan memainkan peran penting dalam mempercepat transformasi digital perbankan.

Saat ini, dari sekitar 400 juta orang dewasa di Asia Tenggara, hanya 104 juta orang yang banked dan menikmati akses penuh ke layanan keuangan, sedangkan 98 juta lainnya termasuk dalam kategori underbanked. Artinya mereka memiliki rekening bank, tapi tidak memiliki akses ke layanan kredit, investasi, dan asuransi.

Baca Juga: Selama Pandemi Covid-19, Pelanggan Baru UKM Meningkat 57%

Sisanya, sebanyak 198 juta orang adalah unbanked atau tidak memiliki rekening bank. Di sisi lain, jutaan usaha kecil dan menengah menghadapi kesenjangan yang besar dalam hal pendanaan.

"Sebagai bagian dari visi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025, Bank Indonesia mendorong peran industri perbankan dalam mengembangkan open banking di sistem pembayaran melalui perumusan Standar Open API (Application Programming Interface) dengan keterkaitan antara industri perbankan dan teknologi keuangan (fintech)," kata Erwin Haryono, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI dalam webinar Open Banking in Indonesia and Singapore: Collaboration for Innovation and Collaboration, Rabu (22/7/2020).

Di Singapura, Monetary Authority of Singapore (MAS) adalah lembaga pertama di Asia Tenggara yang merumuskan kebijakan open banking. Namun, sampai saat ini belum mengharuskan industri perbankan untuk berbagi data.

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini