Mengelola Infrastruktur Digital dalam Adaptasi Kebiasaan Baru

Mengelola Infrastruktur Digital dalam Adaptasi Kebiasaan Baru Foto: Telkomsigma

Pandemi yang terjadi saat ini melahirkan kenyataan baru bagi rencana transformasi digital perusahaan yang dituntut lebih cepat direalisasikan. Berdasarkan survei IDC pada Mei 2020, infrastruktur digital mampu memberikan nilai agility dan resilience yang dinilai menjadi kunci bagi perusahaan dalam menghadapi tantangan bisnis di tengah gelombang Covid-19.

Mevira Munindra, Country Head of Operation IDC Indonesia, dalam sesi webinar yang bertema "Mengelola Infrastruktur Digital di Era New Normal" menyebutkan bahwa dukungan IT digital memberikan kepastian bisnis serta menjadikan engagement dengan customer tetap terjalin tanpa henti.

Baca Juga: Pascabencana, Jaringan dan Layanan Telkomsel Pulih di Luwu Utara

Begitu juga terhadap aktivitas internal dan juga business process yang dapat berjalan kondusif. Menurut Mevira, untuk dapat melewati fase transisi, "Adaptasi Kebiasan Baru" (sebelumnya: new normal), perusahaan dituntut untuk berinvestasi lebih besar dan mengelola infrastruktur IT lebih serius.

CEO Telkomsigma, Sihmirmo Adi, dalam webinar yang digelar pada Kamis (16/7/2020) tersebut memaparkan upaya Telkomsigma sebagai penyedia infrastruktur IT khususnya Data Center dalam menyikapi tren IT Digital.

"Dengan kapabilitas kami sebagai provider data center yang memiliki wide coverage di Indonesia, yaitu 14 business data center dan 3 enterprise data center berstandar Tier III dan Tier IV yang secara total memiliki kapasitas lebih dari 16.000m2, Telkomsigma siap menjadi digital enabler bagi industri yang membutuhkan transformasi digital di tengah pandemi," ujar Mirmo.

Perlu diketahui, data center menjadi fasilitas IT yang menjadi tulang punggung bagi perusahaan untuk dapat mengadopsi layanan digital terintegrasi, mulai dari cloud, banking platform, hingga layanan berbasis teknologi IoT, ERP, dan juga smart city.

Mevira menambahkan, "Infrastruktur IT terutama data center menjadi key driver bagi perusahaan dalam menghadapi tren bisnis yang makin mengarah pada digital experience, artificial intelligence, machine learning, dan berbagi proses bisnis yang bersifat data oriented."

Namun, situasi pandemi dan gejolak ekonomi saat ini mendorong industri untuk beradaptasi lebih cepat secara digital, tanpa melupakan aspek efisiensi. Karenanya, pelaku industri saat ini tengah dihadapi dengan pilihan adopsi layanan IT apakah berbasis cloud atau colocation.

"Pemilihan solusi IT perlu disesuaikan dengan karakteristik dan pola bisnis masing-masing perusahaan karena kebutuhannya pasti berbeda. Jika Anda ingin punya kontrol penuh terhadap perangkat network, server, storage, OS hingga database, serta bisnis Anda memerlukan teknologi yang comply dengan regulasi dari lembaga tertentu seperti perbankan, colocation menjadi tepat," dijelaskan Mirmo.

Sementara, adopsi cloud menjadi pilihan bijak bagi mereka yang berorientasi pada fleksibilitas dan juga efisiensi dalam menjalankan bisnisnya. Hal itu karena karakterstik cloud yang mampu disesuaikan utilitasnya dari segi resource, compute & storage, hingga benefit dari aspek investasi IT (Capital Expenditure) dan operasional (Operational Expenditure) yang lebih efisien. Dengan demikian, adopsi cloud menjadi sesuai dengan karakteristik perusahaan berskala kecil menengah.

Meski demikian, Mirmo menegaskan bahwa investasi IT yang lebih besar bukan berarti akan berdampak negatif pada perusahaan. "Kita perlu melihat terutama dari segi total cost of ownership serta advantage yang dihasilkan (dari investasi IT). Belum tentu yang terlihat mahal di depan akan menjadi hambatan, justru yang dilihat adalah business leverage-nya, competitiveness, serta efisiensi bisnis yang diraih secara jangka panjang," ditambahkannya.

Untuk melalui turbulensi bisnis saat ini, IDC juga merekomendasikan kepada perusahaan untuk menggandeng partner transformasi digital yang tepat karena saat ini IT telah menjadi critical asset yang menentukan sustainability perusahaan.

"Tak perlu khawatir, cukup memilih partner teknologi yang tepat dan sesuai dengan (kebutuhan) perusahaan Anda, serta pastikan memiliki aspek security yang mumpuni," pungkas Mevira.

Sebagai informasi, 60% dari 360 pelanggan Data Center Telkomsigma saat ini berasal dari industri perbankan dan finansial yang tentu memiliki regulasi ketat terutama dari aspek security dan operasional yang harus memenuhi kriteria best practice dan sertifikasi internasional.

Selain bersertifikat Tier IV Facility dan Tier III Operation dari Uptime Institute, Data Center Telkomsigma juga telah memperoleh sertifikasi ANSI / TIA-942 Design dan ANSI/TIA-942 Site Rating 3. Sertifikasi ini menandakan seluruh fasilitas DC telah diinspeksi secara total baik dari segi design document dan physical.

Fokus portfolio ICT Telkomsigma saat ini juga tidak hanya data center, tetapi juga dengan tersedianya layanan optimasi bisnis yang terbagi menjadi 4 portfolio besar: Data Center, Cloud, Digital Services, dan IT Services.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini