Dekan FK UI Bantah Thermogun Bisa Merusak Otak

Dekan FK UI Bantah Thermogun Bisa Merusak Otak Foto: Sufri Yuliardi

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Ari Fahrial Syam mengatakan termometer tembak (thermogun) inframerah aman untuk manusia yang dapat digunakan untuk mengecek suhu tubuh manusia pada masa adaptasi kebiasaan baru saat pandemi COVID-19.

"Thermometer inframerah tidak memancarkan radiasi seperti sinar-X dan, karena itu, tidak mempengaruhi sistem saraf termasuk juga tidak merusak retina," kata Ari dalam keterangan persnya, Jakarta, Selasa.

Baca Juga: Yuri Bantah Thermo Gun Rusak Otak, 'Gak Perlu Ditambah-tambahi'

Thermogun merupakan salah satu jenis termometer inframerah untuk mengukur temperatur tubuh yang umumnya di arahkan ke dahi. Alat itu menjadi andalan utama sebagai alat skrining COVID-19 dengan gejala demam.

Namun, beberapa hari ini masyarakat diresahkan dengan viralnya video di media sosial yang menyatakan bahwa alat tersebut berbahaya karena dianggap menggunakan laser dan merusak otak. Ari menuturkan thermogun itu sudah lolos uji kesehatan sehingga sudah diperhitungkan bahwa alat itu aman digunakan untuk skrining COVID-19 dengan gejala demam.

Ari menuturkan alat thermogun untuk skrining temperatur seseorang bekerja dengan menerima pancaran inframerah dari benda, bukan dengan memancarkan radiasi apalagi laser. Akademisi dan praktisi klinik itu menuturkan sama halnya dengan laser pointer, laser pada thermogun tersebut tidak memiliki efek yang berbahaya pada otak.

"Tetapi, laser itu tidak boleh menembak ke mata secara langsung karena dapat merusak retina,".

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini