Gagal Bayar Jiwasraya Tak Akan Terjadi Seandainya...

Gagal Bayar Jiwasraya Tak Akan Terjadi Seandainya... Foto: Sufri Yuliardi

Tim Penasehat Hukum Heru Hidayat, Kresna Hutauruk menilai PT Asuransi Jiwasraya (Persero) sebenarnya masih memiliki sejumlah instrumen investasi ketika umumkan gagal bayar. Bahkan instrumen investasi itu juga bisa menutup gagal bayar polis asuransi yang dialami perseroan pada 2018.

Kresna mejelaskan, instrumen investasi itu berupa obligasi sebesar Rp4,5 triliun dan deposito sekitar Rp750 miliar. Aset-Aset tersebut, lanjutnya, bisa digunakan untuk menutup gagal bayar polis Jiwasraya pada Oktober 2018 sebesar Rp802 miliar.

"Jadi, kenapa umumkan gagal bayar, coba dibayar pake aset yang masih ada tersebut, maka tidak akan terjadi gagal bayar," ujar Kresna saat ditemui di sela-sela persidangan lanjutan perkara dugaan tindak pidana korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi pada PT Asuransi Jiwasraya di Jakarta, Rabu (15/7/2020).

Baca Juga: Orang Dekat SBY Curiga Kasus Jiwasraya Diskenariokan

Menurut Kresna, dengan menggunakan aset-aset tersebut, permasalahan gagal bayar Jiwasraya bisa diselesaikan. Namun, manajemen Jiwasraya pada saat itu justru mengumumkan gagal bayar. Sehingga menyebabkan pergerakan saham-saham yang dimiliki Jiwasraya ikut terdampak.

"Otomatis saham-saham yang dimiliki Jiwasraya (terdampak), tahu sendiri kan pergerakan saham bergantung pada isu dan sentimen pasar. Jadi, sampai sekarang masih ada kan saham-sahamnya, masalah nilainya naik atau turun kan fluktuatif," jelas dia.

Sementara dalam sidang lanjutan tersebut, Kresna menilai saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU)-- Agustin Widhiastuti, Kepala Divisi Keuangan Jiwasraya, dan Mohammad Rommy, bawahan Agustin--tak bisa membuktikan tak adanya arahan dari direksi dan atasannya untuk membeli saham-saham tertentu.

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini