Komandannya Dituduh Pembelot, Respons Hamas: Gak Begitu!

Komandannya Dituduh Pembelot, Respons Hamas: Gak Begitu! Foto: Reuters/Mohammed Salem

Kementerian Dalam Negeri Hamas, faksi Palestina yang berkuasa di Gaza, menyangkal laporan yang mengklaim seorang komandan seniornya ditangkap karena bekerjasama dengan Israel. Faksi itu menegaskan laporan pengkhianatan pejabat militernya sebagai rumor palsu.

Media yang berbasis di Arab Saudi; Al Arabiya, mengutip sumber-sumber Palestina yang tidak disebutkan namanya, mengklaim bahwa seorang komandan senior Angkatan Laut dari sayap militer Brigade Izzuddin al-Qassam ditangkap aparat Hamas atas tuduhan bekerja sama dengan Israel.

Baca Juga: Ngawur, Komandan Elite Hamas Berkhianat Jadi Mata-Mata Israel

Komandan tersebut bersama beberapa personel dilaporkan melarikan diri dari Jalur Gaza setelah dicurigai bahwa mereka bekerja untuk Israel. Beberapa dari mereka ditangkap. Pelarian itu, lanjut laporan tersebut, dilakukan dengan kapal militer Israel sembari membawa laptop, uang tunai, peralatan pengintaian, dan dokumen rahasia yang berbahaya.

“Tidak benar. Kami menolak rumor palsu yang dipublikasikan oleh (saluran yang berbasis di Saudi) Al Arabiya, yang menghubungkan klaim dengan kementerian dalam negeri terkait penangkapan beberapa anggota Hamas dengan tuduhan bekerja sama dengan Israel," kata kelompok Hamas dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Times of Israel, Selasa (14/7/2020).

"Kami dengan tegas menyatakan bahwa Al Arabiya melakukan penipuan dan bekerja untuk menyebarkan desas-desus dan kebohongan," lanjut kelompok tersebut.

Sumber-sumber yang dikutip Al Arabiya mengatakan temuan agen-agen ganda mengirim para pemimpin Hamas ke "keadaan histeria", ketika kelompok itu melakukan lusinan penangkapan untuk mencari tersangka tambahan dalam jaringan mata-mata yang dituduhkan.

Laporan itu, yang diedarkan di sejumlah publikasi berbahasa Arab dan Ibrani, awalnya diterbitkan di Amad, sebuah organisasi media yang dekat dengan komandan Fatah yang diasingkan, Mohammad Dahlan.

Dahlan, saat ini berbasis di Uni Emirat Arab, diusir dari Gaza pada 2007 setelah kalah dalam konflik kekerasan dengan Hamas untuk menguasai wilayah tersebut.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini