Bertahan di Tengah Pandemi, Perbankan Wajib Perkuat Permodalan

Bertahan di Tengah Pandemi, Perbankan Wajib Perkuat Permodalan Foto: Sufri Yuliardi

Pandemi Covid-19 yang menyebar hampir ke seluruh wilayah di dunia terbukti telah membawa dampak besar terhadap kehidupan masyarakat. Tak terkecuali juga di Indonesia. Berbagai sektor usaha seketika terhantam oleh lemahnya daya beli masyarakat dan kondisi rantai pasokan (supply chain) yang juga terganggu oleh kebijakan lockdown yang diterapkan di sejumlah negara. Laju roda perekonomian pun secara otomatis melambat, dan bahkan seolah jalan di tempat.

Dari kondisi tersebut, banyak pihak mulai mengkhawatirkan kondisi lembaga keuangan yang ada di Indonesia. Memori buruk masyarakat terhadap krisis tahun 1998 kembali muncul. Industri perbankan yang merupakan sektor jasa keuangan yang paling mapan, dominan, dan sangat dekat dalam kehidupan masyarakat kemudian menjadi yang paling dikhawatirkan bakal terimbas dengan adanya tekanan dari pandemi ini.

Baca Juga: Lahan Subur Perbankan Syariah di Indonesia

"(Agar perbankan bisa bertahan) Perlu ada peran dan komitmen dari pemilik modal perbankan nasional bahwa kesehatan perbankan harus senantiasa dijaga, dipantau penuh. Tak peduli itu (bank) asing maupun dalam negeri," ujar Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Anung Herlianto, dalam diskusi virtual dengan tema "Peran Pemilik dalam Mendukung Kinerja Bank" pada Kamis (8/7/2020).

Menurut Anung, setidaknya ada dua hal besar yang kini menjadi concern OJK untuk terus diawasi guna memastikan kinerja industri perbankan masih dapat berjalan dengan baik di tengah pandemi. Dua hal tersebut adalah soal risiko likuiditas dan juga risiko dari kinerja penyaluran kredit. Guna menjaga dua hal tersebut, diperlukan "bantalan" yang cukup memadai dari segi ketersediaan permodalan.

"Posisi CAR (capital adequacy ratio/rasio kecukupan modal) harus benar-benar dijaga. Untuk itu, perlu peran lebih dari pemilik modal, terlebih dalam kondisi krisis seperti saat ini," tutur Anung.

Senada dengan pendapat Anung, Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk, Ryan Kiryanto, juga menyebut bahwa posisi modal (capital) menjadi kunci yang sangat penting di tengah kondisi tekanan krisis yang hingga kini belum juga terukur bakal terjadi sampai kapan. Tanpa permodalan yang mumpuni, secara bertahap, bank diyakini Ryan bakal makin kesulitan untuk terus menjaga operasional kinerjanya dengan baik.

"Kuncinya adalah capital. Dengan modal yang cukup, bank akan bisa lebih kuat dalam mempertahankan operasionalnya. Caranya ada dua, yaitu lewat suntikan modal langsung atau menahan agar tidak ada pembagian dividen. (Modal) Ini sangat dibutuhkan karena bank harus 'lari marathon' dalam jangka Panjang. Bahkan, garis finish'-nya saja kita belum tahu kapan. Kalau (modal) tidak kuat, bisa habis napas di tengah jalan," tegas Ryan.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini