Gandeng Indodax, Platform Ini Perluas Pasar di Tanah Air

Gandeng Indodax, Platform Ini Perluas Pasar di Tanah Air Foto: Unsplash/André François McKenzie

Thetalabs (Theta), platform streaming yang berdomisili di San Jose, California memperluas pasar di Indonesia dengan bekerja sama dengan Indodax, Indonesia startup bitcoin, blockchain, dan perdagangan aset kripto. Theta merupakan platform streaming terdesentralisasi yang menggunakan sistem blockchain.

CEO Thetalabs, Mitch, mengatakan bahwa Theta adalah jaringan pengiriman video terdesentralisasi, didukung oleh pengguna, berjalan pada blockchain khusus pada jaringan Theta. Pengguna dapat memperoleh hadiah token karena menggunakan kelebihan bandwidth mereka untuk berbagai video dengan pengguna lain di dekatnya.

Baca Juga: Buronan FBI Si Predator Seks Anak Tipu Investasi Bitcoin sampai Rp11 Triliun

"Kami telah mengembangkan jaringan pengiriman video kami dan mengimplementasikan kemitraan teknologi kami dengan platform video. Karena itu, Indonesia adalah pasar yang sangat menarik bagi kami dan kami sangat senang memperkenalkan Theta Network kepada penyedia layanan lokal," katanya di Jakarta, Selasa (7/7/2020).

Dia menjelaskan, bermitra dengan Indodax adalah langkah penting untuk menggaet pasar di Indonesia yang memiliki populasi aset kripto yang sangat aktif. Saat ini, Theta sudah memiliki beberapa Theta Guardian Nodes (server blockchain Theta) yang tersebar di Indonesia.

THETA adalah token tata kelola dari protokol blockchain Theta yang digunakan untuk dipertaruhkan sebagai simpul validator untuk menghasilkan blok, untuk mengamankan jaringan, dan untuk berpartisipasi dalam tata kelola protokol. Staking THETA juga menghasilkan TFUEL.

TFUEL adalah token operasional protokol blockchain Theta. Pengguna akan menggunakan Theta Fuel untuk menyelesaikan transaksi seperti membayar relay node untuk dapat mengakses video atau untuk menyebarkan dan berinteraksi dengan kontrak pintar. Relay node menghasilkan Theta Fuel untuk setiap streaming video yang mereka bagikan ke pengguna lain di jaringan.

Mitch mengungkapkan, peluncuran Theta Mainnet 2.0 baru-baru ini telah sukses besar dengan basis kode forking ke kode 2.0 tanpa hambatan dan cakupan yang luas dari kemitraan peluncuran dengan Google Cloud. Namun, yang paling penting untuk jangka panjang adalah peluncuran main net Guardian Node staking.

Theta meyakini pertumbuhan video streaming seperti game akan terus meningkat. Dari riset yang mereka himpun, seperti kelompok riset dalam S&P Global Market Intelligence, langganan video OTT Indonesia yang berbayar menembus sekitar 36,4% rumah tangga broadband pada 2018. Ini diharapkan tumbuh 16,4% selama lima tahun ke depan.

Menurut peneliti lain, pendapatan di segmen Video-on-Demand diproyeksikan mencapai US$304 pada tahun 2020 dan ini diharapkan untuk menunjukkan tingkat pertumbuhan tahunan (CAGR 2020-2024) sebesar 9,6%, menghasilkan volume pasar yang diproyeksikan dari US$ 439 juta pada tahun 2024.

Dengan ukuran pasar konten video besar Indonesia, Theta ingin memasuki pasar Indonesia dan bekerja sama dengan penyedia konten video lokal untuk membangun jaringan Theta yang terdesentralisasi.

"Dengan terdaftarnya kami di Indodax, kami ingin meningkatkan kesadaran protokol Theta dan terus meningkatkan komunitas kami dan menambahkan lebih banyak Guardian Nodes untuk sepenuhnya mendesentralisasikan protokol kami," jelas Mitch. 

CEO Indodax, Oscar Darmawan, saat diminta keterangan mengenai hal tersebut mengatakan, Indodax selalu berusaha menghadirkan dan mendukung pengembangan infrastruktur blockchain di Indonesia.

"Theta adalah salah satu blockchain yang menurut kami cukup berpotensi di masa depan, khususnya melihat dari daftar partner korporasi dari Theta sendiri mulau dari Samsung, CJ Hello, dan Google. Saya kira hingga sekarang tidak banyak protokol blockchain yang mempunyai kekuatan partnership di dunia korporasi sebesar Theta. Saya sangat terkesan dengan daftar partnership yang dibawa oleh Theta," kata Oscar Darmawan.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini