Rapid Test Jadi Bisnis, Publik Murka: Moga Dilaknat Dunia Akhirat

Rapid Test Jadi Bisnis, Publik Murka: Moga Dilaknat Dunia Akhirat Foto: Sufri Yuliardi

Rapid test menjadi salah satu syarat untuk bepergian. Sayangnya, tes itu sekarang sudah jadi ladang bisnis. Pengamat penerbangan yang juga anggota Ombudsman, Alvin Lie, mengatakan bahwa indikasi rapid test sudah dijadikan ladang bisnis dengan munculnya drive thru rapid test, peperti tarif promo yang terlihat di kawasan Bandara Soekarno-Hatta.

Sejumlah maskapai, bahkan menggeber promo untuk memfasilitasi penumpang yang hendak terbang. Citilink, anak usaha Garuda, menggratiskan uji cepat bagi penumpangnya dalam jumlah tertentu, yakni 500 penumpang. Lion Air Group juga mengenakan tarif Rp95.000.

Baca Juga: Gegara Rhoma Irama Nyanyi, 500 Warga Bakal Dirapid Test

Menurutnya, di negara lain untuk para pelawat domestik berlaku penekanan pada protokol standar kesehatan. Di antaranya masker, Jaga jarak, pengukuran suhu tubuh.

“Di negara-negara lain, rapid maupun PCR hanya untuk orang yang products gejala. Ketersediaan alat tes diutamakan untuk mereka, tidak dibisniskan sebagaimana di sini,” ujarnya, Kamis (2/7/2020).

Is_pelssy mengatakan, mahalnya rapid test semakin menyusahkan masyarakat. Kata dia, di tengah kecemasan, saat susah mencari segenggam beras, rapid test dijadikan ladang bisnis.

“Sungguh terlalu. Masyarakat ditindas dengan harga rapid Covid-19 Rp70 ribu disulap antara 350 ribu sampai 1 juta per orang,” ujarnya.

“Sekelas negara kecil Ecuatorial Guinea Afrika Barat, dari rapid, PCR, swab gratis tis... Karantina kelas HIlTON or IBIS Hotel baru ditanggung company. Kemaren di +62 mungkin pas kebetulan aja bayar. Rapid 500 ribu, PCR Rp2,5 juta,” kata Mwildhan.

Deliari25 berharap, pihak yang mengambil keuntungan di tengah kesengsaraan warga mendapat balasan yang setimpal. Kata dia, luar biasa, dari mulai masker, hand sanitizer, APD sampai rapid test dibisnisin.

Baca Juga: Rakyat Tak Puas dengan Kinerja Pemerintah Tangani Corona

“Semoga dilaknat dunia akhirat, orangorang yang mengambil keuntungan di tengah kesengsaraan orang lain,” tegasnya.

“Bisnis apa yang paling menjanjikan tahun 2020 & 2021 bro? Bisnis Rapid test!,” cetus Ghazy_Kyaukphyu. “Tiket lebih murah dari rapid test, rapid test jadi bisnis, mantep tambah Whajd2.

Menurut SuperMumun, memakai masker saat melakukan penerbangan sudah cukup. “Masih perlukah rapid test di Bandara? Secara mall & tempat wisata sudah banyak yang buka? Menguntungkan siapa ladang bisnis baru ini? Yang jelas lagi-lagi konsumen yang dirugikan. Menurut saya Protokol #newnormal HS, masker, social distancing, thermo gun sudah cukup,” ujarnya.

“Mau keluar kota harus rapid test, mau tes kerja rapid test, mau periksa kesehatan rapid test, bahkan mau melahirkan harus rapid test. Sampe sini udah paham kalo wabah ini udah jadi ladang bisnis?,” kata Warmstrong182.

“Rapid test memang sudah jadi bisnis sampingan RS dan berbagai institusi. Padahal rapid test sama sekali tidak membuktikan seseorang itu positif atau tidak, dan harusnya RS/dokter paling tahu tentang ini. Mewajibkan rapid test untuk syarat pelayanan kesehatan itu bodoh dan kejam!,” cetus PartaiSocmed.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini