Bisnis Emas Masih Jadi Andalan, Keuntungan Antam Redup di Q1 2020

Bisnis Emas Masih Jadi Andalan, Keuntungan Antam Redup di Q1 2020 Kredit Foto: Sufri Yuliardi

Kinerja PT Aneka Tambang Tbk (Antam) meredup pada awal tahun 2020 (Q1 2020). Bagaimana tidak, laba usaha yang pada Q1 2019 mencapai Rp283,42 miliar menurun menjadi Rp137,54 miliar pada Q1 2020 ini. Profitalibitas Antam yang menurun itu salah satunya dipengaruhi oleh rugi selisih kurs sebesar Rp362 miliar sehingga Antam membukukan rugi periode berjalan sebesar Rp281,84 miliar. 

Dilansir dari laporang keuangan yang dipublikasikan perusahaan, pendapatan Antam menurun dari Rp43,41 miliar pada Q1 2019 menjadi Rp26,35 miliar pada Q1 2020. Pendapatan dari emas dan feronikel menjadi kontributor utama dengan porsi 76% atau sebesar Rp3,97 triliun.

Baca Juga: Ngeri... Dolar AS Ditinggal Lari, Emas Global yang Paling Dicari

Sementara itu, penjualan Antam juga mengalami penurunan dari Rp6,22 triliun menjadi hanya Rp5,20 triliun. Penjualan ekspor berkontribusi paling besar dengan porsi 26% atau sebesar Rp1,37 triliun. Kemudian, Antam mencatat penjualan lokal sebesar Rp83,24 miliar. 

Baca Juga: Bergidik! Dolar AS Berdarah-Darah, Rupiah Jauh Lebih Parah!

Lebih lanjut, manajemen Antam optimis bahwa perekonomian pada Q2 2020 akan menjadi lebih baik. Untuk itu, Antam berkomitmen untuk meningkatkan capaian produksi dan penjualan komoditas utama perusahaan. Saat ini, posisi sumber data nikel Antam mencapai 1,36 miliar wet metric ton (wmt) dan bauksit sebesar 597 juta wmt. Keduanya akan menjadi penunjang rencana pengembangan bisnis dan operasi jangka panjang bagi Antam.

"Dengan ditetapkannya harga patokan penjualan mineral logam di dalam negeri oleh Kementerian ESDM akan memberikan tingkat harga jual mineral dalm negeri yang kompetitif dan memberikan peluang bagi Antam untuk meningkatkan jangkauan pemasaran bijih nikel di dalam negeri," jelas Antam.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini