Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

Sabtu, 11 Juli 2020

  • 09:07 WIB. Bursa - Indeks Nasdaq ditutup positif 0,66% pada level 10.617.
  • 09:06 WIB. Bursa - Indeks Dow Jones ditutup positif 1,44% pada level 26.075.
  • 09:05 WIB. Bursa - Indeks S&P 500 ditutup menguat 1,05% pada level 3.185.
  • 09:02 WIB. Bursa - Indeks FTSE 100 ditutup positif 0,76% pada level 6.095.
  • 09:01 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,25% terhadap Yen pada level 106,93 JPY/USD.
  • 09:00 WIB. Gold - Spot price emas diperdagangkan pada level 1.798 USD/troy ounce.

Nah Lho, Setelah Didesak Baru Ngaku, PPP Ngaku RUU HIP Usulan Partai Bu Mega...

Nah Lho, Setelah Didesak Baru Ngaku, PPP Ngaku RUU HIP Usulan Partai Bu Mega...

Baca Juga

WE Online, Jakarta -

Wakil Ketua MPR Arsul Sani mengatakan bahwa Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) merupakan usulan dari anggota DPR dari fraksi PDIP pimpinan Megawati Soekarnoputri.

Hal tersebut disampaikan Politisi Senior PPP dalam  tayangan Dua Sisi TV One bersama dengan pakar hukum dan tata negara Refly Harun, seperti dikutip, Jumat (26/6/2020).

Awalnya Refly Harun menyatakan tidak setuju dengan RUU HIP, lantaran takut Pancasila disalahgunakan oleh negara seperti di rezim orde lama dan orde baru.

Baca Juga: Inilah Bukti PDIP Bukan Partai Bar-Bar

Baca Juga: Orang 212: PDIP Mah Lebay...

"Kalau Pancasila itu dibajak oleh negara, dia bisa digunakan sebagai alat untuk memukul, bukan merangkul. Itu terjadi di era orde lama dan orde baru," ujar Refly Harun.

Kemudian presenter menanyakan kemungkinan negara bisa menjadi Pancasila sebagai alat memukul jika RUU HIP dijadikan Undang-undang.

Jawab Refly, RUU HIP ini memberikan definisi dan tafsir terhadap Pancasila. "Padahal kita tahu bahwa kalau Pancasila tafsirnya dimonopoli oleh negara, dikhawatirkan menjadi alat penggebuk dan memisahkan," tuturnya.

Sambungnya, ia mencontohkan polarisasi yang terjadi di masyarakat kekinian. Menurutnya, hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak positif bagi kehidupan kebangsaan.

"Narasi yang berkembang di masyarakat kan seperti itu. Ada yang Pancasilais, ada yang tidak Pancasilais, ada yang pro-NKRI, ada yang tidak pro-NKRI, pro-mana, ada cebong, ada kampret. Ini tidak positif bagi kehidupan kebangsaan," tuturnya.

Tag: Megawati Soekarnoputri, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Arsul Sani

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Vicky Fadil

Foto: Sindonews

loading...

Recommended Reading