Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

Senin, 01 Juni 2020

  • 16:14 WIB. Gold - Spot price emas diperdagangkan pada level 1.736 USD/troy ounce.
  • 16:14 WIB. Oil - Harga acuan Brent diperdagangkan pada level 37,98 USD/barel.
  • 16:13 WIB. Oil - Harga acuan WTI diperdagangkan pada level 35,45 USD/barel.
  • 16:13 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,50% terhadap Poundsterling pada level 1,2405 USD/GBP.
  • 16:12 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,34% terhadap Euro pada level 1,1139 USD/EUR.
  • 16:11 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,06% terhadap Yuan pada level 7,13 CNY/USD.
  • 16:11 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,39% terhadap Yen pada level 107,41 JPY/USD.
  • 16:10 WIB. Bursa - Indeks Hang Seng ditutup positif 3,36% pada level 23.732.
  • 16:09 WIB. Bursa - Indeks Shanghai ditutup positif 2,21% pada level 2.915.
  • 16:09 WIB. Bursa - Indeks Straits Times ditutup positif 1,64% pada level 2.552.
  • 16:08 WIB. Bursa - Indeks Nikkei ditutup positif 0,84% pada level 22.062.
  • 16:07 WIB. Bursa - Indeks KOSPI ditutup positif 1,75% pada level 2.065.
  • 16:07 WIB. Bursa - Indeks FTSE 100 dibuka positif 0,82% pada level 6.126.

Kampanye Hitam Sawit Ganggu Investasi dalam Negeri

Kampanye Hitam Sawit Ganggu Investasi dalam Negeri

Baca Juga

WE Online, Jakarta -

Persaingan dagang antara produsen minyak nabati dunia kian memanas sejak munculnya minyak kelapa sawit yang menjadi primadona. Bagaimana tidak, minyak kelapa sawit merupakan minyak nabati paling produktif sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dunia. Selain itu sawit juga bisa dijadikan sebagai bahan dasar beragam industri seperti makanan, kosmetik hingga bioenergy.

 

Tekanan pada komoditas strategis bagi perekonomian Indonesia ini pun semakin berat. Meskipun beberapa penelitian menyebutkan sawit sebagai minyak nabati dengan penggunaan lahan paling kecil namun isu deforestasi kerap ditujukan kepada industri ini. Isu lainnya pun terus bergulir yakni isu Hak Asasi Manusia (HAM), keanekaragaman hayati dan pengelolaan lahan gambut serta isu kesehatan.

 

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono menyebutkan, isu-isu tersebut merupakan bagian dari kampanye hitam dalam perang dagang minyak nabati global. Joko menegaskan kampanye negatif tersebut memberikan dampak negatif terhadap iklim investasi sawit dalam negeri. 

 

Baca Juga: Belum Optimal, Strategi Diplomasi Sawit Perlu Diubah

 

Hal tersebut disampaikan Joko dalam acara #INAPalmOil Talkshow yang digagas Forum Komunikasi Sawit (FKS) yang diadakan secara online pada hari Rabu (20/5/2020).

 

Joko mengungkapkan, telah terjadi fenomena baru dalam dunia investasi global yang menekan industri sawit dalam negeri. Bank-bank di dunia terutama dari Eropa dan Amerika saat ini menerapkan kebijakan baru  menolak memberikan pinjaman bagi industri yang menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia ini.

 

“Selama ini industri sawit mengajukan pinjaman melalui beberapa bank Asia, seperti bank Jepang, China dan Korea. Dua tahun terakhir bank Jepang tidak memberikan kredit lagi ke industri sawit, karena mendapat pressure dari NGO maupun efek dari kampanye negatif sawit yang kian menyebar,” kata Joko.

 

Baca Juga: Soal Pemanfaatan Lahan Gambut RI, Tuduhan LSM Antisawit Tak Valid!

 

Menurutnya, saat ini kampanye yang dilakukan Indonesia baik pemerintah dan pengusaha belum optimal. Sementara itu arus isu negatif kelapa sawit terus digulirkan oleh negara produsen minyak nabati lainnya terutama di Eropa.

 

Senada dengan Joko,  Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Federal Jerman, Arif Havas Oegroseno mengungkapkan keprihatinannya terhadap kampanye hitam industri kelapa sawit khususnya Sawit Indonesia. Menurutnya, Indonesia sudah seharusnya memiliki long term strategy dalam menghadapi kampanye negatif sawit.

 

Havas menyatakan upaya memerangi kampanye negatif dan diskriminasi sawit Indonesia terkendala masalah anggaran. Sementara itu, Uni Eropa selain melakukan berbagai upaya proteksi terhadap pertaniannya, juga mengalokasikan 65% anggarannya untuk mensubsidi pertanian.

 

“Kita menghadapi serangan dari negara maupun industri yang memberikan modal besar. Sementara yang kita lakukan jumlahnya banyak tapi nilainya sedikit. Bandingkan dengan kampanye yang dilakukan oleh perusahaan Avril Group yang merupakan perusahaan agro Industri asal perancis yang mengalokasikan dana kampanye anti sawit sebesar USD 75 juta  setiap tahunnya,” ujar Havas.

Tag: Kelapa Sawit, Minyak Kelapa Sawit Mentah (Crude Palm Oil/CPO)

Penulis: Boyke P. Siregar

Editor: Annisa Nurfitriyani

Foto: Antara/Aswaddy Hamid

loading...

Recommended Reading