Dirayu Pindah dari China Sampai Diimingi US$2 M, Toyota & 4 Perusahan Jepang: No! China Amat Penting

Dirayu Pindah dari China Sampai Diimingi US$2 M, Toyota & 4 Perusahan Jepang: No! China Amat Penting Foto: Agus Aryanto

Pemerintah Jepang menawarkan sejumlah insentif kepada Toyota dan empat perusahaan lainnya dengan syarat mereka harus memindahkan kegiatan produksi dari China ke Jepang. Tawaran itu diberikan sebagai upaya pemerintah Jepang dalam mendiversifikasi rantai pasokan di negaranya.

Dilansir dari South China Morning Post, alih-alih menerima tawaran, Toyota dan keempat perusahaan lainnya justru tegas mengatakan bahwa mereka enggan melakukan itu. Salah satu alasan yang membuat mereka enggan pindah adalah penilaian bahwa China merupakan pasar yang sangat penting bagi produk mereka.

Baca Juga: Finally! Emas Global dan Emas Antam Berani Unjuk Gigi

"Toyota tidak memiliki rencana untuk mengubah startegi kami di China atau Asia karena situasi saat ini. Industri otomotif menggunakan banyak pemasok dan mengoperasikan rantai pasokan yang luas dan tidak mungkin untuk beralih begitu saja dalam sekejap. Kami memahami posisi pemerintah, tetapi kami tidak memiliki rencana untuk mengubah produksi kami," tegas Toyota dikutip pada Rabu (13/05/2020).

Sepaham dengan Toyota, produsen peralatan rumah tangga dan bahan bangunan asal Jepang, yakni Lixil telah merilis pernyataan serupa, di mana mereka mengaku tak punya rencana untuk memindahkan kegiatan produksi.

Baca Juga: Industri Mobil di Eropa Terpukul, BMW & Toyota Ikutan Tutup Pabrik

"Kami mengoperasikan rantai pasokan global yang fleksibel dengan lebih dari 100 basis manufaktur di seluruh dunia. Struktur fleksibel dan sepenuhnya terintegrasi ini memungkinkan kami untuk menyerap dampak Covid-19," tegasnya.

Begitu pun juga dengan tiga perusahaan lainnya yang sama-sama menolak tawaran insentif pemerintah. Sebagai informasi, pemerintah Jepang telah mengalokasikan dana hingga 220 miliar yen atau setara dengan US$2 miliar untuk perusahaan yang mau memindahkan produksi kembali ke Jelang dan sebesar 22,3 miliar yen untuk perusahaan yang mau memindahkan produksi manufaktur ke Asia Tenggara.

Para analis menilai, keengganan lima perusahaan Jepang untuk pindah produksi tidak lain dilatarbelakangi oleh optimisme mereka untuk dapat bertahan di tengah pandemi saat ini. Selain itu, kelima perusahaan juga harus bersikap hati-hati dalam menjaga hubungannya dengan China.

"Perusahaan-perusahaan ini akan sangat berhati-hati tentang apa yang mereka katakan, apakah mereka benar-benar ingin pindah ke tempat lain. Mereka ingin menjaga hubungan dengan pemerintah China dalam hubungan yang baik," jelas seorang profesor di Niigata University of Management, Ivan Tselichtchev.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini