Dear Parents, Psikolog Bilang Gadget Bikin Anak-anak Terpenjara dan Keracunan

Dear Parents, Psikolog Bilang Gadget Bikin Anak-anak Terpenjara dan Keracunan Foto: Unsplash/Annie

Psikolog Anak Tika Bisono mengatakan banyak hal negatif yang ditimbulkan ketika anak sudah terpapar dengan gawai atau gadget. Karenanya kata dia, penting bagi orang tua untuk memberikan batasan dan waktu kapan anak bisa bermain gadget.

“Jadi ketika anak-anak teracuni, terkena toksin, racun HP, itu kan ada ongkos, ada akibat, akibat inilah yang terjadi peristiwa semacam ini (kasus pembunuhan remaja),” kata Tika saat dihubungi, Senin (9/3/2020).

Baca Juga: Anak-Anak Indonesia Lemah dalam Urusan Presentasi

Banyak orang tua, kata dia, beralasan bahwa yang dilihat atau yang ditonton anaknya adalah permainan. Tapi dari permainan itu lanjutnya anak menjadi suka dan terjebak dengan rasa suka itu sehingga tidak tertarik dengan aktivitas lainnya.

“Disuruh ngerjain yang lain engga mau, jadi dia terjebak dan dipenjara dengan itu. Karena terpenjara dengan yang dia doyan itu, itu kerja fungsi otak yang jalan itu-itu saja. Jadi HP ini juga merusak fungsi otak,” ungkapnya.

Karena gadget sambungnya, sehingga fungsi-fungsi bagian otak yang lain tidak berfungsi dengan baik. Misalnya kreativitas, kecerdasan bersosialisasi, kecerdasan beride, berkomunikasi.

“Itu tidak berkembang gara-gara kejebak smart phone,” kata Tika.

Banyak orangtua lanjut dia salah paham, karena melihat anaknya tenang dengan gadgetnya. Padahal dalam ketenangan tersebut, ada modal perusakan diri.

“orangtuanya semakin anak tidak ngapain-ngapain makin senang. Anak gue anteng padahal dalam ke-anteng-an itu dia merusak dirinya. Kognitifnya, emosinya, fisiknya, biologisnya, fisiologis, kerja kelenjar-kelenjar, emosinya, Psiko sosialnya, sikapnya, itu jadi rusak semua karena anteng yang menjerumuskan,” jelas Tika.

Coba saja kata Tika, ajak anak ngobrol saat dia tengah asyik dengan gadgetnya. Anak tersebut tidak akan merasa senang, anak justru merasa diganggu. Apalagi kalau orangtua mengambil paksa gadget tersebut. Anak akan menolak dan menjerit-jerit.  

“Ya memamg harusnya tidak dipaksa diambil, tapi anak-anak harus diajarkan kapan HP, kapan tidak HP. Di situ anak-anak perlu belajar disiplin,” tuturnya.

Lalu kapan mulai mengajarkan anak disiplin? Menurut Tika, sejak anak sudah mengerti dan bisa berbicara meskipun masih belum jelas.

Misalnya, Tika mencontohkan, ada satu jam waktu bermain dengan anak dengan mematikan ponsel, mematikan TV dan hal lain yang dapat mengganggu kebersamaan atau yang dapat merusak waktu bermain dengan anak.

“Misalnya (isi kegiatan) dengan menggambar, bersihkan tempat main, bermain sepeda keluar, berenang. Itu yang sudah saya lakukan dan saya harap teman-teman lain juga bisa (menerapkan waktu bersama anak),” ujarnya.

Tapi tidak jarang juga ujar Tika, banyak orang tua yang justru merasa terganggu ketika anaknya aktif bergerak. Label-label nakal juga sering keluar dari mulut orangtua kepada anaknya.

“Loh itu anak geratakan mau main sama kamu, mau main sama orangtuanya, loh dikatakan nakal. aneh itu orang tua. Jadi kita sendiri tidak mengabaikan kesehatan jiwanya anak ketika mereka masih kecil,” kata Tika.

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini