Ilmuwan Norwegia Bocorkan Informasi Sensitif ke Iran Soal Senjata Pemusnah Massal

Ilmuwan Norwegia Bocorkan Informasi Sensitif ke Iran Soal Senjata Pemusnah Massal Kredit Foto: (Foto/Shutter Stock)

Dua peneliti di Universitas Sains dan Teknologi Norwegia (NTNU) di Trondheim telah didakwa dengan pelanggaran berbagi data dan sedang diselidiki oleh Layanan Keamanan Polisi (PST) atas dugaan berbagi informasi sensitif dengan Iran.

Kedua ilmuwan tersebut dilaporkan mengundang ilmuwan tamu dari Iran ke laboratorium canggih tanpa memberi tahu manajemen atau mengikuti prosedur yang berlaku.

Baca Juga: Meski Tidak Sepenuhnya, Iran Klaim Masih Hormati Kesepakatan Nuklir

Selanjutnya keduanya dituduh berkontribusi terhadap pelanggaran data tentang pembuatan senjata pemusnah massal. Kedua ilmuwan itu telah ditangguhkan dari posisi mereka dan dilarang mangakses laboratorium universitas.

“Penelitian ini terkait dengan lingkungan yang lebih kecil, termasuk peneliti tamu dari Iran. Pertanyaan kunci bagi kami adalah untuk mengetahui apakah penelitian ini dapat menjadi penting untuk pembuatan senjata pemusnah massal (WMD)," kata Direktur Komunikasi PST, Trond Hugubakken, kepada lembaga penyiaran Norwegia, NRK, yang dilansir Selasa (21/1/2020).

Dengan pengakuannya sendiri, kegiatan kedua ilmuwan yang diduga bertentangan dengan undang-undang kontrol ekspor itu pertama kali muncul pada musim semi 2019.

"Sampai sekarang, dua karyawan NTNU dituduh berkontribusi terhadap pelanggaran data dengan menyediakan akses tidak sah ke sistem komputer," jelas Hugubakken. Menurutnya, tidak dapat disangkal lagi bahwa penyelidikan akan diperluas.

"Interogasi masih dilakukan, dan bukti teknis sedang diperoleh. Investigasi masih dalam tahap awal dan diyakini memakan waktu," kata Hugubakken.

Selanjutnya kedua peneliti diskors dari kegiatan mereka di Institute of Mechanical Engineering and Manufacturing (MTP) NTNU dan dilarang mengakses laboratorium universitas.

Baca Juga: Kesepakatan Nuklir Iran Sangat Sulit Diselamatkan

Wakil Presiden NTNU untuk penelitian, Bjarne Foss, menekankan bahwa para peneliti memiliki akses ke laboratorium teknologi tinggi di mana bahan-bahan canggih, seperti paduan logam, dianalisis.

"Kelompok peneliti ini, baik staf NTNU dan peneliti tamu Iran, menggunakan lab khusus, yang disebut lab Nano-mekanik, relatif intensif selama periode waktu yang singkat," kata Foss kepada surat kabar Universitetsavisa.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini