Sepak Terjang Perry Warjiyo, dari Anak Petani Hingga Jadi Bos BI

Sepak Terjang Perry Warjiyo, dari Anak Petani Hingga Jadi Bos BI Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja

Masyarakat Indonesia melihat sosok Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) yang tentunya memiliki kehidupan layak, bahkan bisa dibilang berharta. Namun, di balik itu semua, Perry harus melewati kerasnya kehidupan sebagai seorang anak miskin yang terlahir dari keluarga petani.

“Dulu orang tua saya bekerja sebagai petani tembakau, cukup sukses, tapi pas saya mau lulus SD, bangkrut. Akhirnya jadi petani sawah,” ungkapnya dalam acara Kadin Talks di Jakarta, Senin (26/8/2019).

Perry hidup dengan permasalahan ekonomi. Sebagai anak ke-6 dari 9 bersaudara, dirinya dituntut untuk sukses dan membantu membiayai kehidupan keluarganya.

Baca Juga: Bos BI Ajak Pelajar Melek Ekonomi dan Keuangan Digital

Saat lulus SMA, Perry memutuskan untuk mendaftar kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Awalnya, Perry ingin mendaftar di jurusan kedokteran. Namun, uang hasil pinjaman ibunya tak cukup untuk membayar biaya pendaftaran, akhirnya ia mendaftar di jurusan ekonomi.

"Dulu saya ingat ibu saya meminjam uang dari desa sebelah sebesar Rp35 ribu. Rp25 ribunya untuk formulir pendaftaran, sisanya untuk ongkos dari Solo ke Jogja. Ternyata, nggak cukup (untuk daftar kedokteran), cukupnya untuk daftar ke jurusan ekonomi," jelasnya.

Semasa kuliah, pria kelahiran Sukoharjo ini berhasil mendapatkan beasiswa dari Bank Indonesia hingga ia lulus dari UGM. Hanya membutuhkan waktu 4,5 tahun, Perry pun meraih gelar S-2 dan S-3 dan memboyongnya menjadi Gubernur BI dari 25 April 2013 hingga saat ini.

Baca Juga: Bos BI Tekankan 3 Hal Penting untuk Infrastruktur Adil dan Berkelanjutan

Jebolan Sarjana Ekonomi Universitas Gadjah Mada 1982 itu meraih gelar Master dan PhD di bidang Moneter dan Keuangan Internasional dari Iowa State University, Amerika Serikat masing-masing pada 1989 dan 1991.

Perry memiliki pengalaman di bidang riset ekonomi dan kebijakan moneter. Selain itu, di isu-isu internasional, transformasi organisasi, dan strategi kebijakan moneter, pendidikan dan riset kebanksentralan, pengelolaan devisa dan utang luar negeri, serta kepala Biro Gubernur di Bank Indonesia.

Ia pun pernah mengemban posisi penting selama dua tahun sebagai Direktur Eksekutif di International Monetary Fund (IMF), mewakili 13 negara anggota yang tergabung dalam South-East Asia Voting Group.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini