Ada Masjid Dihancurkan di Sri Lanka, Demi Apa?

Ada Masjid Dihancurkan di Sri Lanka, Demi Apa? Kredit Foto: Reuters/Erik De Castro

"Setelah rangkaian serangan Paskah, orang-orang non-Muslim di kota kami memandang seakan kami teroris," kata M.H.M. Akbar Khan.

 

Dia merujuk rentetan serangan bunuh diri di tiga gereja dan tiga hotel mewah yang menewaskan lebih dari 250 orang di Sri Lanka, pada Minggu Paskah (21/4) lalu. Sebuah kelompok Islam fundamentalis dituduh berada di balik rangkaian peristiwa itu.

 

Lantaran serangan tersebut berimbas kepada komunitas Muslim di Sri Lanka, sekelompok umat melakukan tindakan drastis pada bulan Ramadan guna membuktikan bahwa mereka tidak bisa disamakan dengan terduga pelaku teror. Mereka menghancurkan sebuah masjid.

 

Akbar Khan adalah pengurus masjid yang dihancurkan tersebut. Dia menjelaskan mengapa jemaah di Madatugama, sebuah kota di Sri Lanka tengah, menempuh langkah ekstrem itu.

 

Baca Juga: Muslim Diteror, Sri Lanka Blokir Media Sosial

 

Kecurigaan

 

"Setelah serangan terjadi, polisi berkali-kali mengunjungi masjid tersebut. Hal ini membuat jemaah khawatir dan risau. Rasa saling tidak percaya juga semakin menjadi-jadi antara kami dan komunitas lainnya," jelas Akbar Khan.

 

Masjid yang dihancurkan itu disebut-sebut digunakan sebagai tempat ibadah oleh para anggota National Thowheed Jamath (NTJ). Organisasi yang kini dilarang keberadaannya oleh pemerintah Sri Lanka itu diduga berada di balik peristiwa rangkaian bom bunuh diri pada Minggu Paskah.

 

Setelah serangan, pemerintah Sri Lanka berupaya memberantas NTJ. Satu-satunya masjid yang dikelola organisasi itu yang berada di Kota Kattankudy, Sri Lanka bagian timur telah disegel oleh aparat.

 

Adapun masjid di Madatugama tidaklah sarat dengan nilai sejarah atau budaya. Masjid itu dikelola kelompok ultra-konservatif lain yang diyakini tidak terkait dengan peristiwa pengeboman.

 

Aksi penghancuran tersebut menunjukkan seberapa jauh langkah yang siap ditempuh komunitas Muslim untuk melawan ekstremisme.

 

Baca Juga: Dampak Aksi Bom Paskah, Kunjungan Wisatawan ke Sri Lanka Anjlok Drastis

 

Keputusan bulat

 

Jemaah setempat menyetujui bahkan berpastisipasi dalam penghancuran masjid di Madatugama, Sri Lanka bagian tengah. 

 

Kami sudah punya sebuah masjid di kota kami yang melayani keluarga-keluarga Muslim di area kami. Namun, beberapa tahun lalu, kelompok lain membangun masjid ini," kata Akbar Khan.

 

Dia mengisahkan, para pengurus dan jemaah masjid lama menggelar pertemuan pada Mei lalu yang berujung pada keputusan bulat bahwa masjid baru nan kontroversial itu harus dirobohkan.

 

Dengan menggunakan perkakas sederhana, seperti godam dan linggis, jemaah setempat menghancurkan masjid itu.

 

"Kami menghancurkan menara dan ruang sembahyang kemudian menyerahkan lokasi ke pemilik aslinya," tambahnya.

 

Sekitar 70% penduduk Sri Lanka merupakan penganut agama Buddha dan nyaris semuanya adalah bagian dari komunitas etnis Sinhala. Pemeluk agama Hindu adalah kelompok kedua terbesar dengan 12%.

 

Umat Muslim sebanyak 10?n penganut agama Kristen sekitar 7%. Sebagian besar umat Muslim berbahasa Tamil. Namun, karena alasan sejarah dan politik yang rumit, umat Muslim menyebut diri mereka sebagai kelompok etnis yang terpisah dari etnis Tamil.

 

Baca Juga: Kedubes Arab Saudi Minta Warganya Tinggalkan Sri Lanka

 

Rumah Tuhan

 

Namun aksi penghancuran masjid ini tidak diterima semua orang. All Ceylon Jamiyyathul Ulama, yang dianggap sebagai kaum paling paham soal agama Islam di Sri Lanka mengatakan tempat ibadah seharusnya tidak diganggu.

 

Jemaah Kota Kattankudy beranjak dari masjid seusai menunaikan salat Jumat. Umat Muslim di Sri Lanka mengatakan mereka hidup dalam ketakutan setelah rangkaian serangan Minggu Paskah. 

 

"Semua masjid milik Allah, terlepas siapa pengurusnya. Menghancurkan dan merusak masjid bertentangan dengan rukun Islam," sebut organisasi itu dalam pernyataan resmi.

 

Pemerintah Sri Lanka mencatat terdapat 2.596 masjid yang terdaftar. Dari jumlah itu, 2.435 masjid aktif digunakan untuk salat.

 

Masih ada puluhan masjid yang tidak terdaftar dan beberapa di antaranya ditelantarkan.

 

Wahhabi

 

"Komunitas bisa mengalihfungsikannya seperti perpustakaan atau pusat kesehatan. Jika kita menghancurkan masjid, maka kita perlu menghancurkan ratusan masjid sekalian," kata Dr A Rameez, kepala jurusan sosiologi di South Eastern University, Sri Lanka.

Lihat Sumber Artikel di Viva Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Viva. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Viva.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini