Keren! PP Presisi Naikkan Target Laba dan Mau Lakukan Aksi Korporasi

Keren! PP Presisi Naikkan Target Laba dan Mau Lakukan Aksi Korporasi Foto: Sufri Yuliardi

PT PP Presisi Tbk (PPRE) percaya jika sektor konstruksi di tanah air masih memiliki potensi yang besar untuk tumbuh. Pada tahun ini perseroan pun menaikan target perolehan laba bersih menjadi sebesar Rp600 miliar dari sebelumnya senilai Rp500 miliar.

 

Direktur Keuangan PPRE, Benny Pidakso, target perolehan laba bersih tersebut akan didukung oleh optimisme perseroan yang bisa meraih pendapatan serta kontrak baru yang akan sama-sama mencapai sebesar Rp5 triliun-Rp6 triliun di akhir tahun ini. 

 

"Target laba 2019, jadi kita sudah sepakat dengan induk melalui strategi peningkatan feeding segmen pasar dan sebagainya, kita optimasi laba bersih di Rp600 miliar jadi peningkatan cukup besar dibanding 2018. Pendapatan di angka Rp5-6 triliun. Rasio laba bersih 10%,” katanya di Jakarta, Rabu (10/4/2019).

 

Baca Juga: Kabar Gembira! PP Presisi Bagikan Dana Hampir Seratus Miliar ke Pemegang Saham

 

Dimana, dari target kontrak baru di 2019 yang sekitar Rp5 triliun-Rp6 triliun perseroan pada kuartal pertama tahun ini sudah mengantongi sekitar 28% atau Rp1,6 triliun. "Kontribusi terbesar untuk Tol Indrapura-Kisaran sebesar Rp1,1 triliun," ucapnya. 

 

Bennny menyebutkan bila untuk mendukung target tersebut, PPRO bakal menganggarkan belanja modal (capex) Rp1 triliun. "Penggunaan capex akan lebih besar untuk penyediaan alat berat dan akuisisi perusahaan yang diperkirakan selesai pada semester pertama tahun ini," jelasnya.

 

Adapun, sumber pendanaan capex berasal dari kas internal dan pinjaman perbankan. Namun, Perseroan pun membuka peluang untuk melakukan aksi korporasi dengan menerbitkan obligasi atau medium term notes (MTN) senilai Rp500 miiiar. "Untuk penerbitan obligasi atau MTN (medium term note) akan kami jajaki pada semester kedua, itu pun kalau kami perlukan," terang Benny. 

 

Baca Juga: Simak, Begini Strategi PP Presisi di Tahun Politik

 

Benny mengungkapkan, jika melihat tingkat suku bunga pinjaman perbankan yang masih kompetitif, maka PPRO memandang bahwa pernerbitan obligasi masih terlalu mahal. "Kami akan mengoptimalkan dana di kas yang ada dan pinjaman bank," ungkapnya. 

 

 

 

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini