Pasca IA-CEPA, Mobil Listrik Jadi Andalan Genjot Ekspor

Pasca IA-CEPA, Mobil Listrik Jadi Andalan Genjot Ekspor Foto: Audy Alwi

Industri manufaktur nasional memiliki peluang besar untuk lebih meningkatkan nilai ekspornya ke Negeri Kanguru, termasuk produk otomotif, menyusul telah ditandatanginya Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) pada Senin (4/3/2019) lalu.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, IA-CEPA memberikan persyaratan QVC (kualifikasi konten lokal) yang lebih mudah untuk kendaraan listrik dan hybrid asal Indonesia, sehingga industri otomotif dapat mengekspor kendaraan listrik dan hybrid ke Australia tanpa harus membangun seluruh teknologi dan fasilitas produksi dari nol.

"Diharapkan kendaraan listrik dan hybrid menjadi andalan ekspor Indonesia masa depan," kata Airlangga.

Ia menyampaikan bahwa pihaknya masih berkeinginan untuk dapat meningkatkan ekspor ke Australia berupa kendaraan dalam bentuk utuh (Completely Built Up/CBU), baik itu mesin yang menggunakan bahan bakar maupun elektrik. "Karena industri otomotif di sana tutup semua. Ini menjadi peluang bagi kita," ujarnya.

Baca Juga: Setelah 9 Tahun Runding, Indonesia-Australia Resmi Teken IA-CEPA

Sementara itu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, IA-CEPA merupakan salah satu perjanjian terpenting bagi Indonesia karena sifat dan cakupannya menyeluruh. Bukan saja di bidang perdagangan barang, jasa, dan investasi, tapi mencakup juga kerja sama ekonomi yang lebih luas, terutama di bidang pembangunan manusia dalam meningkatkan daya saing Indonesia.

Salah satu keuntungan IA-CEPA bagi Indonesia, antara lain dihapuskannya bea masuk impor seluruh pos tarif Australia menjadi 0%.

"Hal ini merupakan hasil positif karena berarti seluruh produk Indonesia yang masuk ke pasar Australia tidak dikenakan bea masuk," ujar Enggar.

Enggar mengatakan, produk-produk Indonesia yang berpotensi meningkat ekspornya adalah produk otomotif, khususnya mobil listrik dan hybrid. IA-CEPA memberikan persyaratan QVC yang lebih mudah untuk kendaraan listrik dan hybrid asal Indonesia dibandingkan negara lain. Hal ini membuat industri otomotif Indonesia lebih berdaya saing dalam mengekspor kendaraan listrik dan hybrid ke Australia.

Selain itu, produk-produk Indonesia yang berpotensi meningkat ekspornya, yaitu kayu dan turunannya termasuk furnitur, tekstil dan produk tekstil, ban, alat komunikasi, obat-obatan, permesinan, serta peralatan elektronik.

"Untuk itu, Kemendag dan Kemenperin telah bertemu dengan para produsen kendaraan, asosiasi, dan para pelaku usaha untuk bisa memanfaatkan peluang di pasar Australia tersebut. Kami berharap otomotif akan menjadi andalan ekspor di Australia," ucapnya.

Baca Juga: Ekspor Otomotif Indonesia Cetak Rekor Manis Sepanjang Sejarah

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini