Begini Smart Warehouse Ala Synnex Metrodata Indonesia

Begini Smart Warehouse Ala Synnex Metrodata Indonesia Foto: Agus Aryanto

PT Synnex Metrodata Indonesia (SMI), salah satu entitas anak Metrodata Group yang fokus di bidang distribusi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), menerapkan konsep Smart Warehouse untuk pusat logistik barunya. Pusat logistik seluas 20.000 m2 di MM2100 Industrial Estate Cibitung itu telah beroperasi sejak Desember 2018, dan rencananya akan diresmikan pada Selasa (26/2/2019).

Presiden Direktur PT SMI, Agus Honggo Widodo mengungkapkan, untuk mengelola logistik, SMI menerapkan dua platform, yakni Warehouse Management System (WMS) dan Transport Management System (TMS). Dia menjelaskan, WMS mengadopsi sistem komputerisasi untuk mencatat keluar masuk dan penyimpanan barang.

"Di warehouse kami ada sekitar 70 ribu barang. Kalau tak pakai aplikasi, orang tidak akan tahu di mana naruhnya. Jadi, saat akan ambil, akan diberitahu oleh komputer di rak yang mana. Sistem ini juga akan mengatur barang yang masuk pertama, akan keluar duluan," ungkap Agus, Senin (25/2/2019).

Baca Juga: Fasilitas Smart Factory Ala Astra Daihatsu Motor

Baca Juga: Apa itu Smart Factory?

Selanjutnya, TMS merupakan sistem untuk mendukung proses pengiriman. Di mana seorang kurir dalam melakukan tugasnya akan dipandu oleh aplikasi yang terpasang di smartphone untuk menunjukkan jalur sesuai barang yang dibawanya. Tidak hanya itu, dengan platform ini mitra bisnis juga bisa memantau langsung progres pesanan mereka melalui Point of Dilivery App. Sistem tersebut didukung oleh SAP Cloud Platform (SCP), yang mendukung fitur track position, fleet information, dan delivery status.

"Layanan order tracking solution dapat diakses, dan proses pembelian dan pemesanan dapat dilakukan kapanpun, di manapun," jelas Agus.

Dengan menggunakan WMS dan TMS, lanjut Agus, pekerjaan di SMI menjadi lebih efisien dari sisi akurasi dan kecepatan. Akurasi atas jumlah barang yang banyak dan bervariasi dapat mengurangi human error. Sedangkan kecepatan merupakan transformasi dari penggunaan kertas ke sistem.

Susanto Djaja, CEO PT Metrodata Electronic Tbk, menambahkan, pada 2017 perusahaan memperoleh pendapan Rp10,8 triliun. Dengan pusat logistik baru tersebut, perusahaan menargetkan peningkatan pendapatan hingga Rp25 triliun lima tahun yang akan datang. Dalam lima tahun mendatang, perusahaan berharap bisa membangun pusat logistik kedua dengan teknologi yang lebih canggih.

"2018 perkiraan pendapatan Rp12,7 triliun, target di 2019 Rp14,3 triliun," ungkap Susanto.

Gambaran teknologi canggih yang akan diterapkan di pusat logistik keduanya nanti, kemungkinan akan menggunakan robotik untuk seluruh kegiatan di dalam gudang. Untuk saat ini masih mengadalkan tenaga manusia untuk menggerakkan forklift. Agus mencontohkan, beberapa negara seperti Taiwan dan Australia sudah menggunakan tenaga robot.

Untuk ke arah itu, lanjut Agus, akan diterapkan ketika gudang sudah sangat besar dan jumlah item yang semakin banyak. Jadi, melihat efisiensinya, untuk saat ini dengan jumlah item sekitar 70.000 masih lebih efisien menggunakan tenaga manusia, sekitar lima orang operator forklift.

"Mungkin nanti kalau jumlah item sudah semakin banyak, mungkin lebih dari 150 ribu item, tenaga manusia sudah tidak sanggup lagi dan mahal, baru menggunakan robot," jelas Agus.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini